Monday, February 17, 2014

Jejak Petualang : Sweet Journey to PACITAN



Rasanya sudah lamammmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmma sekali dech ngga merhatiin isi my  blog gara-gara asyik dengan kesibukan baru plus karena badan emang lagi kagak fits 100%. Yeah, sebenernya kemarin pingin banget lagsung update my story karena aku punya beberapa kisah dari perjalanan keren yang sudah seminggu kemarin berlalu, yaaaa… tapi karena kesibukan baru yang jauh dari aktivitas kantor biasanya, jadi agak keteteran juga. Sebelum kecerita inti, aku pingin kasih tau dulu nich, kemarin-kemarin kan aku sempet banget bosen sama jobdesk dan kerjaan sebagai admin, so akhinya nekat pengajuan mutasi ke jabatan lain, yaitu CS, tapi karena ngga di ACC dengan alasan yang ngga perlu aku sebutkan, akhirnya aku mencoba bertahan di jabatan lama, cuman aku minta sama SPV ku untuk merubah posisi/ meja kerja ku, alhasil…yang biasannya aku standby di lantai 2, kini berada di lantai satu dan suasana baru pun aku temukan, coz selain dilantai satu itu ngga sumpek, ngga gerah, ngga panas, ngga gelap, di sini aku plus bisa cuci mata dan bisa bantu bantu kerjaan CS.. jadi ngga monoton sama kerjaan admin yang kadang suka kadang duka.
Wellll, cerita curhat curhatannya udah aja….. saatnya mulai bercerita tentang perjalanan panjang menuju kota 1001 gua, Pacitan. Setelah sebelum sebelumnya punya rencana piknik ke tanah Pacitan ini selalu gatot alias gagal totat, akhirnya tanggal 31 januari kemarin, tepat disaat libur hari raya Imlek, aku dan koko telah siap membuat sebilah rencana itu menjadi kenyataan.
View Perjalanan
Aku dan koko berangkat dari Boyolali sekitar pukul 9 kurang 10 menit, jalur yang kami ambil adalah dari Delanggu menuju Cawas (sebenenarnya aku buta sama jalur ini, karena emang belum pernah tau lokasinya, tapi koko nekad pingin nyoba, katanya lebih singkat.. ), alhasail kami hanya muter-muter jalan karena ragu sama jalur mana yang harus kami ambil, padahal tuch koko udah bawa peta hasil ia ngeprint di googlemap. So, nyerah juga dan kami memilih jalur Sokoharjo dan lewat Wonogiri kota (Badalahhhhh…. Dari kemarin juga aku udah bilang lewat Wonogiri aje, susah bener…hahaaaa). Dari Wonogiri kota, kami memilih akses menuju waduk Gajah mungkur hingga tembus ke Pracimantoro-Giritontro dan sampailah pada jalan tembus menuju ke Pacitan. Perjalanan emang terasa jauh, namun tidak membosankan layaknya ke Wonosobo, jalan yang kami lalui tidak selamanya mulus, banyak jalan-jalan yang berlubang dan ukuran jalan yang relatif sempit serta medan yang agak susah dilalui, kanan kiri pemandangan kami dihibur dengan gunung dan hutan hijau, hal ini lah yang membuat aku justru tertarik dan tidak terasa kantuk sama sekali. Bermodal papan petunjuk arah, kami sampai kesebuah jalan tikungan yang menunjukkan arah Goa Gong dan pantai Klayar.  Berhubung hari itu adalah Jumat dan sudah menginjak waktu Sholat Jumat, akhirnya kami berhenti disebuah masjid dipinggir jalan, sesat kemudian masjid itu ramai dengan para jamaahnya yang kebanyakan juga berasal dari orang orang wisatawan, uniknya salah satu wisatawan yang ikut rombongan touring adalah temenku SMP dari Boyolali, ya Allah, jauh jauh sampai di Jawa Timur, ketemunya orang Boyolali juga.
Pemandangan pantai Klayar dari atas
Selesai Jumatan, aku dan koko melanjutkan perjalanan ke Pantai Klayar, kurang lebih masih sekitar 13 km lagi, namun menurutku agak lebih dech. Akses jalannya setelah sampai di simpang empat Goa Gong sangat sulit untuk dilalui, jalan yang diaspal cuman selebar 3 meter, kanan kirinya di hiasai gunung kapur dan lembah. Selama perjalanan aku memperhatikan tidak ada bus yang bisa melintas di jalan ini, so..untuk para wisatan yang memakai bus pariwisata harus rela transit di Goa Gong dahulu dan berganti metromini yang sudah ada disana sebagai sarana trasportasi karena memang medannya sangat rumit. Perjalanan yang lagi lagi nampak tanpa ujung, namun kali ini banyak kami temui metromini atau kendaran-kendaraan berlalu lalang, hingga sampailah kami disebuah loket lokasi pantai Klayar yang hanya Rp. 7000,-. Dari atas sudah nampak jelas pantai nan ndah dan masih terlihat virgin dan alami, dari kejauhan nampak seperti di Miami… wwkkkkk!! Maaf Saiya agak lebay dikit nich,,,  hehe. Pantai ini terletak di desa Kalak, kecamatan Doonorojo, Kabupaten Pacitan.
Pemandangan Pantai Klayar
Sesampai di tempat parkir, menyiapkan diri, dan kami pun turun ke pantai dan mendekat ke air. Pasir pantai Klayar berupa pasir putih berstruktur kasar, disekitar pantai belum banyak penjual yang menjajakan makanan, jadi masih terlihat indah dan alami, ditambah dengan karang besar yang mengelilingi sekitar pantai… benar-benar perjalanan panjang terbayar dengan sebuah keindahan. 
Disana juga disediakan persewaan ATV yang berminat hendak berkeliling pantai dengan berATV ria, tapi karena aku ngga bisa, jadi ya memilih jalan jalan sambil berfoto sampai mati gaya. Disebalah kiri pantai terdapat sebuah karang besar yang mana para pengunjung bisa naik keatas dengan izin penjaga pantai, kami hanya dipungut biaya seikhlasnya saja. 
Sayangnya saat itu ombak sedang berada dalam kondisi hati-hati, jadi sesekali kami harus berhati hati ketika ombak besar datang dan menghantam karang karena bisa jadi airnya sampai di atas karang, sempat ketika kami naik diatas karang, ombak besar datang, dan kami dihimbau naik ke atas karang yang lebih tinggi, seruuu sich, tapi koko ku jadi takut gitu.. trus ngajakin balek ke pinggir pantai.. huft, padahal kan seruuuu. 
Karena ombak yang sesekali begitu besar, kami yang duduk duduk di batu agak jauh dari air, sempat terserang deburan ombak, celana ku bener-benar basah, untung saja tas dan kamera masih aman. Beberapa pemandangan yang bisa dinikmati di pantai Klayar ini diantaranya; arang raksasa mirip Sphinx di Mesir, Seruling Laut, Air Mancur alami, dan batu karang indah. Ada dua karang tinggi setinggi pohon kelapa dan menjadi ikon favorit wisatawan. Letaknya ada di sisi timur. Di balik karang ini, masih banyak lagi terdapat karang yang tak lelah diterjang ombak Laut Selatan. Dan diantara karang-karang itu, terdapat karang raksasa yang mirip Tanah Lot. Ada juga sungai-sungai kecil yang bermuara di Pantai Klayar yang berupa air tawar. Sungai dangkal bisa dilewati dengan jalan kaki. Kedalamannya ada yang sepaha orang dewasa di beberapa titik.
Setelah nyaris sekiktar 1,5 jam di Pantai Klayar, kami pun memutuskan untuk kembali ke kota dan mencari penginapan saja disana. Pukul 14.45 kami meninggalkan Pantai Klayar, dan sepertinya perjalanan kami akan sedikit terganggu karena info dari penjual somay, sekitar jam 15.00 akan ada rombongan menteri datang berkunjung, jelas saja saat akan pulang para petugas berseragam DLLAJL sudah standby mengamankan dan mengevakuasi tempat parkir, yap.. dan benar..kami pun berpapasan ditengah perjalanan dengan rombongan mobil pejabat itu, sumpahhhhh…. Ada 20an mobil kayaknya dech.. huft.. setelah rombongan itu berlalu, kami baru bisa melanjutkan perjalanan, melewati goa Gong yang rencananya akan kami sambangi besuk sembari pulang.
Sekitar pukul 16.00 kami sampai di Pacitan kota, kami keliling keliling dari satu hotel ke hotel lain, namun semua sudah penuh, jika ada pun tinggal yang single or yang vip. Kami bahkan berkeliling hingga ke daerah dekat pantai Teleng Ria, melewati kediaman rumah Bapak SBY juga. 
Tuch looking... kediaman rumah SBY
Karena tak kunjung dapat hotel, kami berbalik arah lagi ke pusat kota, hotel Srikandi juga penuh, kami mencoba ke hotel sebelahnya, bernama Bali Asri, dan untunglah masih masih ada kamar kosong dan kami pun mendapatkan penginapan. Kami rehat sejenak, kemudian keluar lagi mencari makan (tentu saja nasi padang yang standar dan menunya sudah kami hafal), kebetulan banget pas sampai di kota Pacitan, signyal kartu Isat diHP ku dan HP koko ku menghilang, daripada berasa di dunia lain, aku pun membeli kartu merah sekedar untuk mengaktfkan whataps dan bbm ku saja, jadi masih bisa berkomunikasi, eh bener..saat di counter ternyata emang sinyal isat lagi galau….hehee. Selesai berbelanja.. kami back to hotel lalu mandi, sholat Maghrib lalu makan dan istirahat. Rencananya malam pingin jalan jalan sekitar alun alun Pacitan, tapi malah hujan turun, batal dech, akhirnya cuman tiduran didalam kamar hotel hingga pagi menjelang.
Pacitan, 1 Februari 2014….
Nampang di depan hotel dan taman kota Pacitan
Mengawali bulan Februari kali ini dengan agenda jalan jalan yang masih berlanjut, sebenarnya pingin banget jalan-jalan dipagi hari, tapi ternyata lelah dan kantuk masih saja membuat kami malas beranjak dari tempat tidur, sekitar pukul 6 pagi aku memutuskan untuk segera mandi, disusul kemudian koko lalu kami pun hunting sarapan, namun karena masih pagi dan bingung mau beli makanan apa,, so kami memutuskan untuk mengunjungi pantai Teleng Ria dulu saja, selagi masih pagi..sepertinya masih sepi dan masih bisa bebas menikmati pemandangannya. Sebelum melaju ke arah pantai, aku meminta koko melewati alun-alun Pacitan dan sejenak mengabadikan foto ditaman kota itu, setelah puas… meluncurlah kami ke Pantai Teleng Ria yang hanya sekitar 5 menit dari pusat kota.
Memasuki halaman depan pantai, kami diwajibkan membayar retribusi sebesar Rp. 5000,-/orang serta Rp.2000,- untuk parkir motor. Benarrrr… suasana pantai masih sepiiiiiiiiiiiiiiii, sayangnya…. Pemandangannya tak seperti yang aku bayangkan. Pantai ini nampak tenang, entah apa mungkin karena masih pagi… tapi mungkin juga karena tempatnya landai, tanpa ada karang seperti di pantai Klayar.
Pemandangannya juga standar pemandangan pantai pada umunya, bagiku tidak nampak wahhhh… bahkan ditepian pantai banyak kotoran sampah yang berserakan, tapi bagaimanapun juga.. deburan ombak dan pemadangan hijau dari dataran tinggi disekitarnya masih memberikan nilai tambah untuk pantai satu ini, bagaimanapun..sulit menemukan pantai yang berada dekat dengan pusatr kota..seandainya saja lebih dilengkapi dengan fasilitas yang memadai, mungkin jauh lebih kereennn.. Oiya, pantai Teleng Ria ini juga terkenal karena banyak nelayan yang mencari ikan disana, bahkan nampak ada dermaga juga di ujung barat pantai. 
Ombak di Pantai ini memang tidak terlalu besar, maka aman untuk berenang, bahkan ada beberapa orang yang hoby surfing bisa bermain surfing disini, bahkan ketika aku disana, ada dua orang pemuda yang tengah berlatih bermain surfing. Semakin siang, pengunjung mulai ramai, bahkan ketika kami hendak pulang, pantai sudah dipenuhi rombongan anak-anak SMK yang tengah bergotong royong, sepertinya mencari bahan bahan buangan yang bisa didaur ulang. Selain itu, di pantai ini juga banyak penjaja ikan goreng hasil tangkapan para nelayan, pantas saja sebelumnya temanku pernah bercerita kalau di pantai ini kurang nyaman, karena agak berbau Amis.. untung saja kami datang dipagi hari.
Setelah puas berfoto ria di pantai kota ini, kami pun kembali ke pusat kota, berharap menemukan warung nasi Lodo, tapi ternyata tidak ada, dan lagi lagi.. untuk sarapan kami pun singgah di warung Padang yang sama, bedanya kali ini kami memilih makan ditempat sebelum kemudian kembali ke hotel
Sekitar pukul 10.00, kami memutuskan untuk cek out dari hotel dan menuju ke perjalanan terakhir kami di kota Pacitan ini, yaitu ke Goa Gong. Kami mampir dulu sejenak di pusat oleh oleh dan membeli beberapa makanan ringan untuk dibawa pulang. Setelah dirasa cukup, perjalanan panjang pun kami lanjutkan. Kali ini kami memilih melewati jalur yang berbeda dari ketika kami berangkat, ternyata jalur yang kami ambil adalah jalur bus, pemandangan yang bisa kami lihat hanyalah lemah dan tebing serta hitan jati, ngeri juga sich..karena meskipun jalannya sudah bagus, tapi tetap saja sepi.. bahkan sempat ketika melewati tikungan, aku merasa ada bau bangkai yang sangat menyengat.. pikiran udah ngga karuan aja tuch, bisa saja kan ada orang jatuh ngga ketauan trus jasadnya membusuk, sapa yang tau…. Heeeeeeeee. Jalan yang kami lalui cukup panjang, hingga akhirnya sampailah kami didaerah pemukiman penduduk dan bertemulah dengan jalan menuju ke arah Goa Gong.
Kami sampai di Goa Gong sekitar pukul 11.00, lokasi Goa Gong tidak terlalu sulit dijangkau, motor kami masih bisa naik ke parkiran atas. Lokasi Goa Gong terletk di Desa Bomo, Kecamatan Punung, Donorejo. Untuk retribusi kami dikenai biaya Rp.5000,-/orang dan Rp.1000,- untuk sepeda motor. Jika ingin melihat keindahan alam di bawah tanah, maka kami harus rela jalan naik terlebih dahulu, tidak terlalu jauh sebenarnya, mungkin hanya sekitar 100 meter saja hingga sampai didepan mulut Goa. Kami masuk bersama dengan beberapa rombongan, huft..selain gelap…di dalam juga panass sekali, lebih lebih banyak banget orang yang masuk dan keluar.. melihat pemandangan stalagtit dan stalagmit… hemmmmm…Subhanallah… keren sangat. Jujur saja, baru kali ini aku masuk kesebuah objek wisata berupa Goa. 
Kami pun menyusuri Goa dengan perlahan, karena koko juuga mesti bawa tas yang lumayan berat (hemm… harusnya di tempat obyek wisata iotu ada loker khusus penitipan barang bawaan), setelah puas berkeliling dan berfoto, kami memutuskan segera untuk keluar dari goa karena terlalu panas dan sesak dengan wisatwan. Aku sendiri bahkan karena terlalu asyik ngikuti jalan, sampe nga tau bagian mana sing yang disebut Gong didalam Goa ini, tapi menurut cerita, goa ini disebut Gong karena ada beberpa bagian pilar atau stalagtit dan stalagmit nya jika dipukul akan mengeluarkan bunyi gema seperti layaknya Gong, sayangnya kemarin aku nga sempat membuktikan teori itu…hahaaa (keasyikan foto foto sampai mati gaya). 
Di dalam goa ini terbagi beberapa ruangan yg menyajikan keaneragaman batuan yg sangat patut di kagumi, mulai dari batu marmer yg bisa tembus cahaya dan di klaim sebagai batu marmer terbesar dan terindah di asia. Menjulang bagai pilar2 menyangga langit goa agar tidah rubuh. Ada juga stalagtit & stalagmit yg bersatu membentuk sebuah batuan lurus menjulang. 
Goa ini juga sudah dilengkapi dengan lampu hias sebagai penerangan dan beberapa kipas angin sehinga goa nampak lebih terang dan sejuk. Didalam Goa terdapat sendang kecil atau sejenis mata air yang dipercaya memiliki kekuatan magis, seperti dianggap sebagai tolak bala, pelancar rejeki dan awet muda. Tapi semua itu kembali kepada pribadi masing masing saja..hehee
Keluar dari Goa, kami istirahat sebentar di depan parkiran sambil minum satu buah es Degan, kagtnya saat membayar,, satu Kelapa Muda hijau yang kami pesan hanya di bandrol dengan harga Rp. 6000,- Busetttttt….. murah bener, lagian ini di tempat wisata… di Boyolali aja udah nyampe Rp. 7000,- lho.. hemmmm..
Merasa cukup untuk istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan pulang melewati jalur yang sama dengan jalur keberangkatan. Wonogiri-Sukoharjo-Soba-Kartasura-dan sampailah di Banyudono, Boyolali sekitar pukul 15.00. hemm, capekkk?? Sepertinya belum terasa capeknya, karena aku cukup puasssss banget dengan perjalan indah 2 hari ke kota Pacitan ini…. Dan aku harus menyiapkan energi baru lagi untuk melanjutkan touring keesokan harinya, Minggu 2 Februari 2014, dengan tujuan Kemuning Karanganyar, bersama rekan-rekan kantor Nusapro Boyolali, karena koko capek, so rencananya aku mau bawa motor sendiri…
Semangt… See Yaaaa di cerita Kemuning Again….


#Forza Inter Milan 1908#

No comments:

Post a Comment