Friday, February 21, 2014

Jejak Petualang : Kemuning I'm Coming Again....



Yeacccccccccccccchhhhhhhhhhhhhhhhhhh... ketemu lagin dech sama cerita perjalanan unikku yang sempat aku lalui beberapa waktu lalu. Maaf banget yach..ceritanya ngga bisa update coz kemarin kemarin jadwal aku masih padat merayap datang seekor nyamukkk...huppp lalu ditangkap... Heeemmm, malah jadi nyanyi cicak cicak di dinding..., kembali ke pokok pembahasan, kali ini aku akan kembali menuliskan pengalaman touring lanjutan yang berlangsung dihari Minggu, 2 Februari 2014.. tepatnya pasca aku menyelesaikan perjalanan indah ke Pacitan bersama koko Bear Baloteli pada 31 Jan-1 Feb 2014 silam. Touring kali ini agak berbeda karena biasanya aku selalu pergi bersama my husband, tapi berhubung yang bersangkutan masih capek, akhirnya aku memilih untuk berangkat sendiri...eittttt..tapi touringnya bukan aku alone loh, kali ini bersama dengan satu tim rekan-rekan kantor dari PT. Nusapro Telemedia Persada cluster Boyolali (bagi yang asing sama nama perusahaan tempat aku bernaung,,, ya wajar aja.. emang ngga terlalu terkenal, perusahaan ini berdiri dibidang distribusi dan telekomunikasi, intinya merupakan salah satu perusahaan bertaraf Nasional yang merupakan bagian dari Dealer PT. Indoat Tbk.)
Dari pada boring, mari lanjut kecerita touring saja.... sebelum memutuskan ber-touring ria, kami sempat memilih beberapa tempat wisata lain, seperti keluar kota atau sekedar bermain Pandawa Water Bom, namun karena keterbatasan dana, dan menurutku terlalu memaksakan diri jika harus berdarma wisata ketenpat yang jauhhhh (seninnya kan masih kerja, apalagi para AO masih harus keliling ke outlet-outlete), akhirnya diputuskanlah untuk bersepeda motor saja ke Kemuning. Sebenarnya aku sudah agak bosan ke lokasi kebun teh ini, sudah beberapa kali aku kesana (dengan patner boncengan yang berbeda-beda....haaaaa), terakhir aku kesana sekitar bulan September 2013, namun karena kali ini rombongan, aku tetep semangat saja untuk ikut dan berniat hendak mengendarai sepeda motor sendiri, pingin cari tantangan baru,,,toh selama ini kalau ke Kemuning selalu bersama joki..hahaa, jadi pingin banget menguji adrenalin dengan meluluhkan rute Kemuning.
Hari Minggu, 2 Februari 2014..pukul 07.30 aku menuju ke rumah Robin, di daerah Kartosuro yang dijadikan sebagai markas untuk berkumpul. Sampai disana, baru terlihat segelintir orang, salah satunya mas Fuad, sang SPV depo Boyolali kota, oiyaaa..sebagai info saja, kantorku terbagi dua depo, aku sendiri adalah admin di depo Boyolali Kota, sedangkan satunya adalah depo pembantu yang berkantor di wiliayah Simo Boyolali. Kami pun harus menunggu beberapa teman lain yang belum datang, terutama yang berasal dari depo Boyolali Kota. Sekitar pukul 08.00, dipastikan peserta touring yang siap ikut sudah lengkap, kami terdiri dari 4 cewek (5 cewek yang lain absen) dan 10 cowok.  Kami pun dihimbau oleh pak SPV untuk berboncengan saja, awalnya aku ngotot banget pingin motoran sendiri, tapi bener-bener dapat tentangan dan larangan dari semua peserta touringm terutama Mba Fafa, patnerku kerja sebagai admin PRM yang bertugas di depo Simo Boyolali, akhirnya aku pun berboncengan dengan my little Brother, alias Febri ijonk... namun tetep dengan mengendari La Spacy, sedangakan Vixione nya Febri dibawa pak SPV.
Rencana awal yang berniat berangkat pukul 07.30, akhirnya molor karena dengan rasa solidaritas yang tinggi, kamipun memilih menanti Bayu, salah satu karyawan Indosat yang sudah menjadi bagian keluarga besar Kantor Boyolali secara ia adalah perwakilan Indosat untuk cluster Boyolali. Terdengar beberapa suara temen-temen cowok yang merasa kelaparan karena belum sarapan, akhirnya Mas Fuad, sang SPV pun bergerak lebih dulu mencari warung disekitar Karanganyar sekaligus menemui dua rekan kami yang menununggu di daerah Palur. Sekitar pukul 09.30, Bayu akhirnya datang.. dan kami pun mulai berangkat. Baru sampai di Sriwedari, Anna salah satu temanku menghubungiku dan mengatakan kalau motor Bayu bannya bocor dan baru ditambal.. hemmm, padahal sebelum berangkat Febri sudah sempat ngobrol sama aku perihal siapa ntr yang motornya bakal bocor dijalan, ehh.. kejadian juga. Aku+Febri, dan 2 motor lain memilih tetap melanjutkan perjalana toh kami masih akan berhenti di warung nanti, dari pada mesti menunggu dan menunggu, namun ternyata salah satu temenku, Ersad yang agak kipink...(haaaaaa....), ia dikerjain sama Robin suruh nunggu karena Robin bilang ngga tau jalan ke Karanganyar, dan parahnya Ersad itu percaya aja.. yeah, alhasil malah pada ilang kagak tau rimbanya. Aku tetap saja melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah warung Soto di Jaten setelah dihubungi mas Fuad. Tak berapa lama kami pun sampai disana, mas Fuad dan 2 rekan kami yang lain sudah selesai makan, kini giliran kami yang bergantian makan sambil menunggu Ersad+Sokin, Anna+Robin, dan Bayu+Asna. Saat kami selesai, giiran Ersad dkk datang... kami pun masih harus menunggu mereka makan...hahaaaa,, selesai sekitar pukul 10.20, dan perjalanan kami menuju Kemuning pun baru dimulai..... Beramai ramai kami melaju melintas Karanganyar kota hingga menuju ke Karangpandan, sayangnya ketika kami mulai sampai atas, gerimis mulai mengguyur, aku pastikan di Kemuning akan semakin deras,,dan sampai sana kami pasti hanya bisa menikmati hujan..wwkkk...
Yeah, kami pun sampai di tikungan arah Kemuning-Candi Cetho...gerimis ringan masih bisa kami terjang..semakin naik.. jalan semakin sempit dan licin, nampaknya hujan deras baru saja mengguyur daerah ini.. semakin keatas, memang hujan tidak lagi menetes, namun kabut tebal semakin menyelimuti dan kami hanya memiliki jarak pandang sekitar 3 meter didepan kami. Bahkan kami sudah tak mampu lagi melihat keindahan kebun Teh yang semestinya menghibur kami dikanan kiri perjalanan, namun kali ini hanya putih kabut yang sangat tebal yang nampak dikanan kiri kami...haaaa, beberapa kali Febri sempat berkata... “bukan wisata kemuning tapi kemabut (penuh kabut).. trusss mana nichhhh kebun teh nya ngga keliatannnnn”...
Kami sempat berhenti sejenak di tikungan arah candi Cetho, lalu melanjutkan perjalanan mendaki jalan yang tinggi curam menuju ke Candi Cetho dalam kondisi kabut yang semakin teballll.... Untung saja La Spacy ku masih bisa kuat naik sampai atas meskipun dengan kekuatan yang ektra superrrrrr...heheeeee... Febri hampir saja menyerah karena motor ku sudah susah di gas lagi.. tapi akhirnya kami pun sampai juga di parkiran Candi Cetho. 
Baru menginjakkan kaki disana, tiba-tiba gerimis mulai datang.. kami yang berniat berfoto bersama di anak tangga pintu masuk Candi pun jadi gagal total dan saling berlari mencari tempat berteduh. Entah mengapa, meskipun sebelumnya aku sudah sempa sarapand an mampir makan soto, rasanya hawa dingin membuat perutku menjadi lapar...padahal aku sudah tak bawa bekal makanan lagi, alhasil aku pun mengambil beberapa makanan ringan yang dibawa oleh  Anna dan Asna..wkwkkk !!!! setelah berteuh sejenak, kami melanjutkan perjalanan naik ke trap demi trap dan berteduh lagi disebuah pelataran joglo.. sampai disana,,,kami bersenda gurau sejenak sambil menunggu hujan reda.
Aksi kak Sartono yang lucu seperti Ultraman Taro
Setelah dirasa hujan mulai reda, kami pun naik ke trap yang palng atas dan menghabiskan waktu untuk berfoto bersama-sama hingga hampir mati gaya, untung saja salah satu temanku yang bernama Akrom membawa kamera plus tripot nya sehingga kami bisa berfoto semuaaaa... karena sebelumnya sudah banyak aku jelaskan tentang Candi Cetho ini dari postnganku sebelumnya, maka kali ini aku lebih cenderung bercerita tentang kekonyolan kami yang berada dicandi ini, bahkan ketika aku tengah asyik berfoto dengan Pak SPV, justru dibelakangku, mas Sartono or Sartini ini malah asyik berpose layaknya Ultarman yang siap beraksi melibas musuhnya.. selain itu, banyak lagi kejadian-kejadian lain seperti hebohnya beberapa temanku saat aku tunjukkan salah satu arca kecil yang berbentuk alat kelamin pria..wwkkkkkk.... saking pada hebohnya, salah satu wisatawan dari rombongan lain ikut penasaran pula.. 
Kami kemudian memutuskan untuk beranjak turun dan meanjutkan perjalanan lagi, pak SPV berharap masih bisa menuju ke lokasi air terjun Jumog, tapi beberapa peserta sepertanya engan, selain itu, baru saja kami sampai di pelataran pintu masuk, hujan deras kembali datang.. dingin pun kembali menusuk kulit dan tulang tulang ku menjadi kaku.. aroma bakso bakar semakin menggodakau, akhirnya aku pun mampir sejenak dan membeli 5 tusuk, syukur-syukur ditraktir sama mas Bayu, sesampai diparkiran, aku bagi-bagikan bakso bakarnya dengan 6 orang lainnya yang ada disana. 
Kami pun bercengkrama dan bercanda di tempat parkir sambil melihat beberapa foto yang telah kami ambil selama diatas tadi. Sembari menunggu hujan reda dan teman-teman lain yang minum kopi di warung lain, kami bertuju yang terdiri dari 4 cewek plus Heri, Danang, dan Vicky kemudian memutuskan mencari minuman hangat di warung depan parkiran. Berhubung cofimix habis, aku pun memilih menu White Coffie, dan baru kali ini aku minum yang namanya White Coffie..aku pikir warnanya putih seperti namanya...Ndesoo banget sich gue... haaaa, ternyata tetep coklat layaknya coffie susu or coffiemix (White coffie mengingatkan ku pada ak korwil ICI Solo..haaaa). Eh baru saja White Coffie terhidang dimeja, rombongan yang tadi di warung lain datang dan mengajak melanjutkan perjalanan, weeeeeee... padahal hujan semakin deras turun disertai dengan geluduk, namun kemudian mulai mereda lagi, dan kami pun beranjak dari tempat untuk melanjutkan perjalanan lagi. 
Awalanya Febri minta aku yang didepan bawa motor, yeach dari pada aku mboncengin dan beresiko nyawa orang mending aku motoran sendiri dan Febri aku suruh numpang  Pak SPV aja (yeachh,,udah berharap nich bisa motoran sendiri... tapi mas Fuad ngga izinin..hahaaaa, ngga jadi dech bawa motor sendiri). Kali ini medan jalan semakin mengerikan, selain masih berkabut dan hujan, jalan yang didomisili dengan turunan curam cukup sulit ditempuh. Aku sudah mencoba menyeimbangkan posisi duduk agar tidak merengsek kedepan,, tapi tetep saja tiap aku mundur.. lagi-lagi melorot kedepan dan beban motor semakin berat didepan. Jarak pandang pun juga sangat minim sekali, seolah bener-benar kami ngga tau apa yang ada didepan kami sekalipun itu jurang atau tikungan, layaknya berada didunia lain yang ngga kami kenal.. bahkan Heri sempat menyinggung soal jalan menuju akhirat yang bakal lebih menyeramkan dari ini.  Jalan mulai stabil setelah sampai ditikungan arah pulang, sudah tak securam jalan Candi Cetho. Kali ini Mas Fuad berada di paling depan, saat melewati papan nama Resto Kemuning, Akom menhentikan langkah motor kami dan meminta untuk singgah makan di resto tersebut, mas Fuad dan aku yang sudah melewatinya kahirnya berbalik arah dan masuk ke lokasi tersebut.
Resto Kemuning nampak ramai, dsebuah resto ditengah kebun teh, dimana dikelilingi oleh hijaunya tanaman teh. Resto ini terdiri dari beberapa ruang rapat dan tempat pemancingans eperti layaknya di Pengging atau di Janti, menu yang disediakan juga tidak jauh beda, seperti Kakap-Nila-Lele baik diolah bakar, goreng, asam manis dsb, harganya juga menurutku tidak terlalu wah, masih standar harga pada umumnya. Setelah kami memarkiakan motor, aku dan mb Fafa mencari tempat untuk makan dan memilih menu makanan, sedangkan yang lain sholat, namun entah kenapa rasanya menunggu yang lain tidak segera datang, ehhhhh ternyata mereka pada asyik bermain ATV ditengah guyuran hujan rintik rintik. 
Daripada kelamaan, aku memutuskan sendiri menu apa yang hendak kami pilih, tentunya dengan disesuaikan dengan sisa budgetnya. Aku pun memutuskan memilih menu Lele Bakar dan Nila asam manis. Sudah aku tebak sebelumnya kalau pasti bakal lama menanti, dan benar sekali.. kami sudah semakin kedinginan dan kelaparan tapi hidangan tak kunjung datang, baru sekitar pukul 15.00 makanan baru tersaji dimeja setelah kami menungu sekitar 1 jam... suasana pun kemudian menjadi ramai sperti layaknya orang pengungsian yang mendapatkan kiriman makanan,,wkwkkkk.... 
tak berhenti sampai disitu, ketika kami makan pun, aksi berfoto ria tak lepas dari agenda kami... hingga selesai makan, kami masih saja berfoto bersama, sayangnya tempat yang kami pilih tidak ada penerangan lampunya sehingga saat mengambil foto harus memakai blits dan hasilnya kurang memuaskan, kalau tidak begitu, kamera mesti disetting auto fokus, ddengan syarat kami ngga boleh bergerak karena bergerak sedikit saja, gambar foto akan kabur... (kayaknya emang dasar si fotograper nya ngga profesional kaliii ya,,,wkwkkkkk.,,,,Peace Akromm J ).
Selasai berfoto, aku kemudian ke kasir untuk membayar, agak terkejut juga sich ternyata total pengeluarannya tidak sebanyak yang sebelumnya aku prediksikan.. ternyata jauhhh lebih murah dari apa yang aku bayangkan,,wow,,, sempet aku sampaikan ke mas Fuad, dan komentarnya tentus eperti biasa “Kok murahhh banget,,, besuk cari tempat makan yang lebih mahal lagi....” wkwkkkk, dasarrrrr SPV Lebay.....
Aku pikir setelah membayar, kami akan segera pulang, namun Anna dan beberapa orang lain masih mengajak berfoto bersama di tengah kebun teh, padahal saat itu gerimis mulai kembali turun. Pasca selesai berfoto layaknya model sawah-sawahan, mas Fuad mengajak bermain ATV lagi, dan kali ini aku pun ikut karena ATV nya boleh dipakai berbocengan. Satu kali sewa ATV Rp. 30.000,- dan mendapatkan 3 kal putaran. Kala itu mas Fuad tandem bersama Ersad, aku bersama Mas Bayu, lucu juga dech, karena mas Bayu masih susah mengendalikan ATV nya. Sedangkan mas Fuad sudah nampak ahli dan justru Ersad dibuat takut sampai teriak-teriak minta turun. Putaran kedua aku turun, diputaran ke tiga aku gantian tandem sama mas Fuad... hemmmmmmm, sumpah tuch orang bener-bener awut awutan naiknya, mana tiap ada kubangan air, ATVnya di gasss poolll, airnya kan otomatis bikin kotor celanaku... wahhh turun dari ATV sudah layaknya orang habis kecebur got.. kotor semua celanaku kena air  lumpur. Kelar berATV, kmai melanjutkan perjalanan pulang, untung saja sudah tidak hujan...
Kami kembali melalui jalan yang sama dengan arah jalan berangkat, ketika hampir sampai di simpang lima mojogedang, kami berhenti sejenak di pinggir jalan, tepatnya di pinggir penjaja Durian, sembari melepas mantol, kami pun menikmati Durian terlebih dulu setelah mas Duad sepakat dengan harganya. 5 Durian dibrandol dengan harga Rp. 20.000,- kami buka di tempat dan kami makan rame-rame. Duriannya legit sebenarnya, rasanya juga manis dan keras, tapi sayangnya dagingnya sangat tipis, lebih tebal isinya.. jadi kurang mak nyusss. Beberapa yang lain membeli Durian untuk dibawa pulang, namun tidak begitu dengan aku, pasca nyeri yang mendera perutku sejak oprasi usus buntu setahun lalu, rasanya aku agak kwatir kalau terlalu banyak makan buah Durian, kemarin saja ngga nyadar karena makan berebutan, ternayta aku sudah makan sekitar 5 biji durian, itupun perutku rasanya mulai kembung dan berhasrat pingin kentut..wwkkkkk....
Setelah puas makan bersama, kami melanjutkan perjalanan pulang, karena sudah tak ada tujuan lain, kami kemudian pulang masing-masing dan sudah tak berbondong-bondong lagi. Sekitar pk. 17.30 aku dan Febri baru sampai di Palur, kemudian ketika sampai di jembatan Jurug, Heri mengajak untuk lewat pasar Gede sambil liatv Lampion Imlek. Aku pun ngkut saja, sampai dijembatan pasar Gede, ternyata lampion belum nyala, tapi kemi memutuskan untuk berhenti sejenak, baru saja kami berhenti, rombongan Bayu+Asna dan Robin+Anna (yang sekarang jadi bahan olok-olokan dan saling di maxcomblangin) datang juga dan ikut berhenti... tak berapa lama, lampu lampionpun menyala..hahaa, dasar kayak orang kampung yang ngga pernah liat lampu, kami cewek-cewek pun heboh foto2 dengan view pemandangan lampu lampion, eitttt tapi jangan salah.... ngga cuman kami lho yang nongkrong disana, masih ada puluhan orang lain tersebar disetiap tepi jalan hanya untuk sekedar berpose disekitar lampion atau hanya sekedar nongkrong doank... karena sudah pukul 18.15 an, kami melanjutkan perjalanan pulang. Ketika sampai di depan pasar Klewer, 3 motor lain berhenti memilih untuk berhenti untuk sholat Maghrib disebuah masjid didepan pasar Klewer, namun karena aku tau Febri udah sangat capek, begitu juga aku, lagian celanaku juga kotor sekali, ngga mungkin juga sholat dalam kondisi celana penuh lumpur. Kami pun memutuskan untuk langsung kembali ke rumah Robin mengambil motor Febri dan pulang. Hemm, sepanjang perjalanan dari Purwosari sampai Gumpang, aku hanya fokus pada HP dan ber whatspan dengan beberapa rekan dari ICI yang saat itu juga sedang otw pulang dari Pekalongan. Ketika sampai disekitar barat Gumpang, aku dan Febri sama-sama blank, seperti ngga ngenalin udah sampai daerah mana,,,mungkin karena capeknya jadi ngga fokus, bahkan aku mesti mikir agak lama, jangan-jangan rumah Robin sudah terlewa, tapi ternyata belum.. sesampainya dirumah Robin, sudah ada Ersad, Sokin , Mas Bowo dan Ekshan yang menanti. Aku tak perlu menunggu lama, karena sudah capekkkk aku pun kemudian pulang.  Dan berakhirlah touring kaliii ini dengan capekkkkkk tapi senanggggggggggggggg...
With my Patner

#Forza Inter Milan 1908#

No comments:

Post a Comment