Thursday, January 23, 2014

Jejak Petualang : 3 Desa 3 Telaga (judulnya maksaaaaaa)



Sebelum mengawali cerita, aku ingin haturkan beribu maaf karena judul yang aku usung di postingan kali ini agak maksa banget, sekedar untuk menyesuaikan suku kata agar enak dibaca aja sebenaranya, maka aku pun menuliskan kata “telaga” dimana semestinya adalah “waduk”….heheee (maafff). Secara kasat mata memang waduk dan telaga tidak jauh berbeda, namun secara definisi keduanya memang cukup berbeda.. Telaga cenderung adalah sebuah danau kecil yang terbentuk karena proses alam, sedangkan waduk adalah sebuah kolam raksasa yang sengaja dibangun alias buatan yang umumnya digunakan untuk keperluan irigasi, budidaya, tempat penampungan air dan obyek wisata. Well, untuk menebus rasa bersalah, untuk selanjutnya…aku memilih memakai kata “waduk” saja ya.. anggap saja judul diatas sebagai usaha menarik masa… heeeee.
Waduk Bade-Waduk Kedung Ombo-Waduk Cengklik
Tiga desa tiga telaga (Baca: waduk), merupakan pokok bahasan yang ingin aku tuangkan di kesempatan kali ini. Masing masing adalah waduk yang berada di wilayah kabupaten Boyolali (untuk Kedung Ombo berada di 3 wialyah kabupaten, Sragen-Boyolali-Grobogan).
Saat nyasar di jembatan Klewor
Untuk kali pertama, aku ingin memberikan gambaran singkat tentang waduk Bade, satu dari tiga waduk yang akan aku sampaikan disini. Yap, secara geografis, waduk Bade berada di Desa Bade, Kecamatan Klego, Boyolali. Waduk ini dimanfaatkan untuk mengairi sebagaian besar sawah di Kecamatan Klego, Kecamatan Andong, Boyolali dan sekitatnya. Waduk ini juga merupakan area untuk wisata lokal dan tempat pemancingan bagi warga sekitar. Awalnya aku datang ke Waduk Bade ini sekedar untuk mengobati rasa kecewa karena sebelumnya aku dan Koko Bear (saat itu masih pacaran statusnya) berencana ke Waduk Kedung Ombo, bermodal GPS aneh dari genset Koko Bear, kami justru di tuntun melewati jalan-jalan setapak, hingga melewati daerah pedalaman yang sepi, kanan kiri hutan serta jalanan yang sudah tak lagi beraspal (ngebayang ngga sich kalau tiba-tiba ban kempes atau mendadak ada harimau kelaparan yang menerkam..heee #lebay). Karena GPS yang sangat-sangat detail, kami pun akhirnya tersesat, justru masuk ke daerah Gemolong, dan itu waduk hanya terlihat dari puncak bukit aja.. #ngenessss….!!. Akhirnya dengan semangat yang tinggal 30%, kami kembali pulang. Sekedar untuk mengobati kekecewaan dan rasa lelah, kami pun mengalihkan tujuan ke Waduk lain yang lebih kecil tapi sudah jelas lokasinya dimana,  yap di Waduk Bade-lah akhirnya kami tambatkan touring nyasar yang ngga karuan itu.
Waduk Bade memang tak sebesar Kedung Ombo, waduk ini hanya berada di wilayah Kecamatan Klego, debit airnya pun juga tidak terlalu banyak. Masuk ke area wisata lokal ini, hanya perlu merogoh kocek karcis sekitar Rp.2000,-, tapi itu belum termasuk parkir lho, kayaknya parkinya juga Rp. 2000,-. (kunjungan pertama pada 5 Februari 2011). Dari pintu tiket, kami langsung masuk di arena parkir dekat dengan warung makan, parkirnya juga masih nampak alami karena berada dibawah pohon kanopi yang rindang, dari depan tempat parkir kami sudah disambut dengan pemandangan hamparan air waduk yang melimpah. Sekitar tepi waduk terdapat beberapa taman untuk tempat duduk dan beberapa pohon talok. Sedangkan dihamparan waduk, terlihat beberapa karamba tempat untuk memelihara ikan, kebanyakan sich ikan jenis wader, ikannya kecil-kecil tapi kalau disantap saat masih hangat (digoreng kering) plus sambel korek, rasanya mantapppp sekali. Selain banyak pasangan pasangan muda yang datang untuk sekedar berdua-dua’an (emangnya aku sama koko Bear kagak ya???hhaaa), aku pun menjumpai beberapa warga sekitar yang asyik menikmati hoby memacing, beberapa harus sabar menanti sang umpan diterkam oleh ikan, namun ada juga yang mesti bersabar hingga terkantuk kantuk… Setelah kami duduk duduk agak lama di kursi taman, aku dan koko Bear pun berjalan menyusuri jalan dekat bendungan dan sesekali mengabadikan foto didekat jembatan..heheee.
Tak banyak fasilitas yang ada di Waduk ini, selain karena memang waduk ini waduk lokal, namanya waduk Bade juga belum terlalu terkenal. Beberapa fasilitas yang ada adalah warung makna lesehan yang ada satu-satunya dan warung singgah seperti kantin sekolah.
Kunjungan kali keduanya adalah pada 12 Mei 2013 lalu, kalau kunjungan sebelumnya memang diluar rencana, nah kalau kunjungan kali ini memang segaja aku dan Koko Bear ku rencanakan. Meskipun masih dengan patner boncengan yang sama, namun status kami sudah resmi kali ini….haaaa. Yeah, kami pun berangkat dari Sambi sekitar pukul 09.00, ngga terlalu jauh sich, 30 menit perjalanan kami sudah sampai. Tidak banyak view yang berubah, namun sayangnya debit air di waduk Bade saat itu menyusut sangat significant. Bahkan dari tepi taman yang sebelumnya air bisa diraih dengan tangan, saat itu terlihat mengering disekitar tepiannya.. Suasannya jadi kurang menyenangkan, view nya juga kurang bagus dech… endingnya aku justru malah asyik foto foto diatas pohon macam apaaaa gitu ya… wwkkkkk !!!. Kami ngga terlalu lama berada disana, Cuman habisin bakso ojek yang kami beli dari pedagang keliling, trus melanjutkan perjalanan mengitari waduk, dan pulangggggg..
Next kunjungan, Kedung Ombo. Adalah wadukkk yang telah menjadi target kunjungan sejak dulu kala. Berhubung sebelumnya gagal sampai kelokasi dan justru disesatkan oleh GPS yang terlampau profesional, akhirnya pada 15 Desember 2013 kemarin aku kembali bersama Koko Bear menyusuri jalan menuju ke Waduk Kedung Ombo yang merupakan waduk kebanggan warga Boyolali…Hehee. Waduk ini merupakan sebuah bendungan raksasa yang mencakup wilayah tiga kabupaten, Boyolali, Sragen, dan Grobogan. Luas seluruh areanya adalah 5.898 hektar, saat awal pembangunan waduk ini sudah banyak cerita negatif yang muncul, salah satunya adalah kasus penolakan penduduk yang sebelumnya tinggal di area tersebut, karena dipaksa untuk meninggalkan lokasi atau rumor lain yang menyebutkan kalau uang kopensasi ganti rugi tidak sesuai dengan yang semestinya.  Sebelumnya memang disebutkan bahwa para penduduk setempat tidak setuju jika mereka harus meninggalkan rumah yang sudah mereka tempati itu untuk dipindah kelokasi lain secara bedol desa, namun karena keputusan sudah ditetapkan, warga seitar sudah tidak bisa berbuat banyak. Sebenarnya, pembanguan waduk ini memang sangat diperlukan terutama untuk membuat bendungan air sebagai wadah untuk pengairan dan budidaya lainnya. Disamping itu, air waduk digunakan pula sebagia pembangkit listrik (PLTA) dan sumber air minum yang dikelola PDAM. Waduk mulai diairi pada 14 Januari 1989, Menenggelamkan 37 desa, 7 kecamatan di 3 kabupaten. Menurut cerita, rumah penduduk yang ditinggalkan itu sama sekali tidak dimusnahkan, jadi ketika dipastikan semua penduduk dievakuasi dan barang-barang telah di pindahkan, pemerintah langsung mengairi bendungan tersebut, sehingga wajar jika didasar waduk banyak ditemukan bekas uk bangunan seperti rumah.
Kalau ngga salah ini daerah Klego-Wonosegoro
Kala itu kami berangkat dari Sambi sekitar pukul 08.50 wib, kami menyusuri jalan melewati Klego, kemudian mengambil tikungan ke kiri menuju ke Karanggede-Wonosego. Untung saja jalan yang kami lewati kali ini sudah banyak mengalami perbaikan, ketika kunjungan pertama, jalan masih banyak yang rusak dan banyak ditemukan genangan air hujan ditengah jalan, bahkan nampak seperti kolam ikan di tengah jalan. Kali ini, meskipun sudah tidak banyak jalan  berlubang, namun masih ada beberapa jalan yang harus kami lewati dengan hati-hati karena ada beberapa yang terlihat retak.
Tugu pertigaan Klego-Tugu perempatan Karanggede
Kondisi jalan Wonosegoro-Juwangi
Setelah sampai di Wonosegoro, kami harus menyusuri jalan yang sedikit lebih sempit dan dimanjakan dengan pemandangan alam berupa hutan jati disisi kanan dan kiri jalan, agak sedikit sepi juga sich jalannya. Setelah sampai di pertigaan, kami mengikuti petunjuk arah ke Juwangi, lagi lagi kami disambut pemandangan alam dikanan kiri jalan hingga kemudian terlihat satu persatu rumah penduduk dan sebuah perkampungan di daerah Guwo. Kami terus melanjutkan perjalanan yang berliku-liku. Pemandangan disekitar daerah situ masih terlihat sangat tradisional dan alami sekali. Kemudian mata kami memandang sebuah petunjuk kearah kanan yang memberikan info arah Kedungombo/ Sumberlawang, Sragen.
Petunjuk arah ke Kedung Ombo
Akses jalan nya ternyata cukup unik, kami tidak langsung mengambil arah ke kanan, tapi justru belok kekiri di ujung jembatan, lalu melingkar melewati bawah jembatan baru menuju ke arah yang di tunjukkan tadi. Perjalanan pun berlanjut, dan salah satu hal yang cukup menarik  adalah melihat sebuah jembatan penghubung kampung yang mangelami kerusakan, benar-benar ambrolll alias terputus, kami pun dengan hati-hati harus melewati jalur alternatif yang dibuat hanya dengan anyaman bambu yang ditopang dengan kayu dan bambu, sedangkan air sungai mengalir cukup deras dibawah kami.
Jembatan Roboh
Agak merinding juga sich, terlebih kalau harus berpapasan dengan pengendara lain, dan dipastikan mobil tidak bisa melintas dijembatan bantuan ini. Selesai melewati jembatan, petualangan tak cukup sampai disini, kami mesti menyusuri jalan yang sepertinya jarang sekali terjamah oleh manusia, jalan yang nampak tanpa ujung.
Akses jalan menuju Kedung Ombo pasca melewati Jembatan roboh
Kondisi kanan kiri penuh hutan jati
Suasaanya sepi dikelilingi hutan hutan jati, dengan kondisi aspal yang tak lagi bisa dikatakan aspal. Sesekali kami memang berpapasan dengan beberapa orang yang nampaknya juga dari luar daerah. Sepanjang perjalanan, suasana agak horor dan menegangakan, hingga akhirnya kami sampai di papan nama “Welcome to Kedungombo”, akhirnya kami pun sampai di lokasi yang telah kami targetkan. Sebelum masuk ke lokasi, kami diwajibkan untuk membayar retribusi sebesar Rp. 5000,- untuk satu orang dan Rp. 1000,- untuk satu motor. Kami pikir sampai didalam sudah tak perlu lagi membayar parkir, ternyata kami masih dipungut biaya parkir Rp.2000,-.
Narsis meskipun agak kecewa denangan view nya
Melangkahkan kaki dan menerbangkan pandangan kesekitar obyek wisata tersebut, ungkapan pertama yang aku rasakan adalah “mengecewakan”, tak nampak sedikitpun sesuatu pemandangan yang sempat aku bayangkan seperti yang ada di gambar-gambar. Tempatnya nampak sangat menyedikan, tidak terurus, kotor, debit airnya pun juga sepertinya tidak penuh. Banyak warung terapung yang tutup serta meninggalkan bekas pondasi bambu sehingga permukaan air waduk jati semakin terlihat kotor dan tak terurus. Satu satunya yang cukup menarik adalah tampilan air waduk yang seperti cermin, tidak bening sebenarnya, namun melihat hamparannya itu nampak seperti cermin yang di gelar dlayaknya permadani. Karena tidak bisa menikmati pemandangan yang aku harapakan, rasanya tidak sepadan dengan perjalana kami yang nyaris 1.5 jam jika akhirnya kami memutuskan untuk pulang dengan kekecewaan, ahkirnya kami pun mampir sejenak untuk rehat dan menyantap kakap bakar disatu-satunya rumah makan terapung yang masih ada. Menjelang siang, ternyata semakin banyak juga pengunjung yang datang.
Aku tertarik sekali untuk naik motor boat yang tentunya kita tinggal jadi penumpang-ny saja, hanya dengan Rp. 25.000,- kita diajak mengitari waduk hingga ke bendungan. Hemm, sayangnya koko ku ngga mau alias ngga berani, huft……….ngga bisa diajak menikmati suasana yang sedikit menegangkan.. alhasil kami pun pulang begitu saja selesai makan.
Pintu loket Kedung Ombo-Motor Boat-Kakap bakar
Sebelumnya aku sempat merengek minta untuk mencari view bendungan seperti yang pernah aku liat dibeberapa gambar di google, namun ketika kami menyusuri jalan kearah bendungan tersebut, Koko pun mengurungkan niatnya karena harus melewati pos penjagaan hutan. Hemmmmmmmmmmm, sedikit kecewa sich, apalagi pasca berlibur ini aku melihat beberapa view foto waduk Kedung Ombo yang diambil dari bendungannya. Pingin banget suatu saat kembali lagi kesana mengobati kekecewaan… belummmm puassss… Lokasinya tak seindah perjalanan kami yang cukup menegangkan !!!. Next time, harus kesana lagi….
Waduk Cengklik
Selanjutnya,,, Waduk ketiga yang sebenarnya sudah sering sekali aku kunjungi dan aku lewati ketika masa masa kuliah karena memang lokasinya sangat terjangkau dari kota serta dekat dengan bandara. Yap, waduk terakhir ini adalah Waduk Cengklik yang ada di Desa Ngargorejo dan Desa Subokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali. Waduk ini dibuat pada tahun 1926-1928 oleh Pemerintah Belanda. Nama Cengklik diambil dari nama dukuh pertama yang mulai dibangun waduk. Letak waduk Cengklik memang cukup strategis, selain lebih dekat dengan wilayah Colomadu dekat pula dengan area Bandara Adi Sumarmo lama, Asrama Haji Donohudan, dan Lapangan Golf, sehingga wajar jika kemudian banyak tempat ini dijadikan obyek kunjungan keluarga atau bahkan satu desa dengan mengendarai kereta kelinci. Disekitar waduk ini juga banyak dijual makanan khas setempat, seperti nasi merah dan pecel sambal wijen dengan ikan wader goreng.
Kemayune jiaaann...Anake sopo to kih???
Kembali keperjalanan kami ke Waduk Cengklik ini, 5 Januari 2014 kami berangkat dari Sambi sekitar pukul 10.30 wib dan tidak memakan waktu lama, sekitar 15-20 menit saja sudah sampai dilokasi. Sesampai disana, kami masuk kelokasi bendungan dan motorpun boleh dibawa masuk ke Lokasi, jadi kami tinggal menyusuri saja jalan diatas.
Bukti saya bukan Internona yang ikut-ikutan misua
Pemandangan yang pertama aku liat adalah banyaknya orang yang hoby memancing sedang melakukan aktifitasnya ditepian waduk, bahkan ada beberapa juga yang mendayung dengan sampan ditengah-tengah waduk. Menurutku, debit air di waduk ini juga menyusut sangat besar sekali, jauh dibandingkan ketika dulu aku sering jalan jalan ke waduk ini bersama saudara sepupuku. Se
pertinya kebutuhan air saat-saat ini sangat tinggi yach? buktinya disaat musim hujan yang sedang deras-derasnya, debit air diberbagai waduk nampaknya tidak terlalu banyak.
View sungai kecil sebelah selatan waduk Cengklik
Kami pun kemudian berhenti dibagian barat, menikmati pemandangan sambil tak lupa narsis disemua view yang nampak bagus disana. Sebenarnya dibagian timur nampak air yang terlihat penuh dan seperti danau alami, namun sudah dipenuhi oleh beberapa wisatawan dan beberapa orang yang asyik memancing, dari pada ngga nyaman juga mengXpresikan diri, kami tetep menikmati waduk dari tempat kami berhenti tadi. Dahulu debit air bisa mencapai tinggi yang significant, namun sekarang justru banyak bagian yang menyurut dan dijadikan sebagai lahan pertanian oleh penduduk sekitar. Satu hal pemandangan yang tak beda dengan waduk Bade adalah adanya karamba di tengah-tengah waduk. Kemarin sempat juga sich melihat ada perahu motor tradisional yang sepertinya di komersilkan untuk menghibur pengunjung yang ingin mengelilingi waduk Cengklik. Sebenarnya waduk ini tidak terlalu besar, namun bagaimanapun juga harus hati hati karena sudah banyak memakan korban, terutama siswa siswa sekolah yang tenggelam diwaduk ini…
Suasana di depan halaman parkir bandara Adi Sucipto
Seusai puas bersantai dan menikmati angin sepoi sepoi diatas bendungan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Bandara Adi Sumarmo. tepatnya di area lintasan pesawat. Disekitar tempat ini sering sekali nampak ramai dikunjungi orang-orang yang sekedar ingin cuci mata atau ingin berlibur sambil melihat pesawat yang take of atau pun yang hendak tinggal landas (seumur-umur aku belum penah liat pemandangan seperti itu, tiap ke area ini selalu saja ngga ada pesawat selain pesawat yang lagi parkir…haaaa).
Yap, disekitar tempat ini juga banyak sekali lho pedagang kaki lima yang menjajakan makanan seperti mie ayam, bakso, es, dll. Salah satu yang menjadi alasan aku mengajak koko kesini adaalah ingin mencari dan menikmati Soup Buah milik Mas Hasan, salah satu member ICI Solo yang pernah di referensikan oleh Bintang. Koko pun melajukan motor dengan pelan, dan ketemu dech dengan kios soup buah Mas Hasan, kami memesan 2 mangkuk dan makan diluar sambil cucimata melihat sekeliling lokasi, berharap jikalau ada pesawat yang take off juga sich…sayangnya sampai selesai makan, ngga ada pesawat yang turun mauapun yang terbang. Sengaja banget sich aku jalan-jalan pake jersey Inter Milan, dan itu sepertinya menarik perhatian mas Hasan, akhirnya akupun ditanyain “Internona ya mb?” hheeeeeeeee………….

#Tetep Forza Inter Milan 1908x....

2 comments: