Wednesday, October 30, 2013

Jejak Petualang : Hattrick Sidomukti !!!



Semangat membangkitkan jiwa berpetualang memang sepertinya sedang menggebu-gebu dalam batin, jiwa, raga dan sanubaruku (halahhh..sumpehhhhh..kalimat pembukaannya lebay abissss). Yeah, dikesempatan kali ini, aku kembali ingin merekam kenangan perjalanan liburan yang pernah aku retas dimasa lalu dalam sebuah tulisan ringan ini. Tujuan touring yang hendak aku ceritakan ini tak lain adalah ke Wisata Alam Umbul Sidomukti Bandungan, yang terletak di lereng sebelah Selatan Gunung Ungaran, wilayah Kabupaten Semarang. Perjalananku kali ini agak berbeda dengan perjalan-perjalan lainnya karena biasanya aku hanya melakukan single figther with my Koko Bear, kali ini aku kesana ber-ramai ramai alias bersama teman-teman.
Pintu Masuk Parkiran Umbul Sidomukti
Papan Nama Lokasi
Pertama kali aku kesana adalah dalam rangka liburan ringan yang direncakan bersama rekan-rekan kantor pada 17 Oktober 2010. Kami memutuskan untuk mengadakan wisata karena uang kas yang terkumpul sudah lumayan banyak, kebetulan aku-lah yang mengurusi uang kas di kantorku (tepatnya sebenarnya bukan kantor sich, lebih tepat disebut depo pelayanan bagi outlet/ konter dan pelayanan customer Indosat, karena memang saat itu aku bekerja di Dealer Indosat, STMJ yang berkantor pusat di Solo). Awalnya kami memilih lokasi yang terjangkau dengan uang kas tersebut plus iuran Rp. 50.000,- tiap pesertanya yang semua adalah anggota depo pelayanan yaitu 2 admin cewek (aku dan CS ku), 6 orang Sales, 2 orang marcom, 1 SPV yang membawa putranya, serta 1 orang OB. Tujuanpun kami pilih ke Sidomukti (karena aku belum pernah kesana, jadi aku semangat sekali), tanggal dan waktu keberangkatan pun ditetapkan setelah semua dipersiapkan seperti transportasi yang saat itu memakai 1 elf dan konsumsi tentu saja. Dihari minggu pagi kami berangkat dari Boyolali kota sekitar pukul 07.30, karena cuman ada 2 cewek, otomatis aku duduk dengan Niar, patnerku itu dan aku memilih duduk didekat jendela agar lebih leluasa melihat pemandangan di luar. Jujur aku cukup buta dengan jalur menuju ke Sidomukti ini, terlebih aku duduk dibelakang dan lebih cenderung bercanda ria dengan semua penghuni Elf. Sukup seru memang, karena kami memang sangat akrab satu sama lain, dan karena keterbatasan biaya, kami sengaja tidak mengajak masing-masing pasangan atau keluarga.
View Lembah dan Bukit Sidomukti
Sekitar pukul 10.00 kami sudah sampai di lokasi tujuan dengan selamat yang mana sebelumnya kami harus melewati medan yang cukup sulit, dimana melewati jalan pemukiman desa yang sempit dan menanjak. Sesampai di halaman parkir Umbul Sidomukti, sesaat udara dingin nan sejuk menyusup kerongga rongga pernafasanku, namun lama kelamaan, sengatan panas matahari mulai merayap dipermukaan kulit ini. Pemandangan alam nya cukup bagus, hijau dan nampak banyak tanaman sayuran dilereng-lereng bukit sekitar lokasi wisata itu. Selain itu, disana juga ternyata banyak sekali kuda yang disewakan jika berminat berjalan jalan dengan naik kuda (itu mah namanya bukan jalan-jalan), Aku agak lupa tarifnya berapa, tapi seperetinya lumayan mahal. Setelah membeli karcis, kami pun masuk ke lokasi wisata tersebut, namun ada kejadian lucu sebelumnya dimana sendal salah satu temanku tiba-tiba jebat alias rusak, so ia pun terlihat nampak konyol dengan sendalnya itu.
Nampak Pos Flaying Fox dari atas bukit
Memasuki lokasi wisata dari pintu loket, kita akan disambut dengan jalan lurus bersemen yang agak menurun ringan dan disisi kirinya terdapat jurang dan disisi kanan terdapat tebing, lalu dipertengahan jalan, di sebelah kiri akan kita jumpai sebuah loket lagi, yaitu loket permainan. Banyak permainan yang ditawarkan disana, seperti ATV,Meniti Jaring, dan Flying Fox. Jujur Flaying Fox adalah yang paling menarik perhatianku, tapi aku jujur agak kwatir dengan berat badanku yang lubayan big.. takut talinya ngga kuat menahanku. Kami pun terus menyusurui jalan hingga sampailah pada bagian kolam, ada sejenis air mancur ditepi kolam itu yang sepertinya berasal dari sumber mata air. Aku hanya mendekat sedikit dan menyentuh air didalam kolam itu, memang tidak ada niat untuk bermain didalam air. 
Mau ngetes sedingin apa airnya..
Temenku bergaya banget ya??
Menurutku wahana wisatanya tidak terlalu wahh buatku, cenderung pemandangan yang biasa saja, namun karena itu adalah kunjungan kali pertama, jadi aku rasa.. cukup mengesankan-lah untuk sebuah pengalaman perjalanan. Sebagai kenang-kenangan, kami pun lalu berkumpul di anak tangga dan berfoto bersama, setelah itu.. kami pun mengelompokkan diri tanpa sengaja dan mencari lokasi yang ingin dikunjungi. 
Foto bersama my teamwork
Aku pribadi masih sangat ingin naik Flaying Fox, namun karena tak ada teman, akhirnya batal dech.. beralih ke lokasi ATV, dengan tiket Rp. 25.000,- /3 kali putar. Aku , Niar dan beberapa temanpun menuju ke lokasi ATV, yaitu sebuah motor dengan roda besar yang dikemudikan seperti layaknya motor matic dan dijalankan disebuah jalur berliku-liku yang sudah dipersiapkan, namun gilleeeeeeeeee abis… aku bener-bener ngga bisa mengendalikan motor ATV ini dengan baik dan benar, terlebih lagi ada jalur yang tergenang dengan air, hampir saja ATV ku ringsek ke tanaman perdu disekitarnya, satu putaran aku pun menyerah..lalu diganti kan oleh temanku, lupa aku siapa yang meneruskan 2 putaran terakhir.
Ayik bener yach yang ber-ATV
Narsis dulu biarpun ngga bisa cara mainnya
Numpang makan di Candi Gedong Songo
Selesai ber-ATV ria, kami pun memutuskan untuk mengakhiri kunjungan kami di Umbul Sido Mukti ini, dan melanjutkan perjalanan menuju ke Candi Gedong Songo.
Kunjungan berikutnya, 17 Juli 2013 alias kunjungan ke-2 adalah kunjungan yang sayang sekali tidak berasal dari niat dalam hati, so perjalannya pun serasa tidak dan sangat tidak menyenangkan. Berawal dari rencana piknik gratis yang diadakan oleh Tim keluarga besar IT dimana Koko ku bekerja, maka di anjurkanlah aku alias sang istri ini untuk ikut serta, dan berhubung lokasi tujuanya adalah Umbul Sidomukti (yang tidak berniat saya kunjungi untuk kedua kalinya) dan waktu wisatanya pun jatuh dihari Sabtu dimana kantorku tidak libur dihari ini, maka aku sangat enggan sekali untuk sekedar cuti dan berlibur di lokasi yang pernah aku datangi. Namun dengan dasar alasan kesetian dan bujuk rayu sang Koko Bear, akhirnya aku pun ikut juga walau dengan suasana yang tidak nyaman. Sabtu pagi sebuah mobil Elf sudah menjemput kami di jalan dekat rumah. Point menyebalkan berikutnya pun datang juga, kami “dipaksa” untuk duduk du kursi depan alias dekat pak supir, padahal seumur umur.. itu adalah tempat duduk yang paling ngga aku suka, lebih lebih perjalanan jauh.. Huft, alhasil bete pun semakin melanda, lebih-lebih yang belakang mulai bercanda yang aku ngga kenal semuanya, Aku pun mencoba menidurkan diri dan hanya bisa sesaat saja, sampai akhirnya mataku terbuka lagi dimana Elf sudah berada di jalur Ring Road Salatiga, dari situlah aku justru memperhatikan jalan, rasanya jalan yang dilalui berbeda dengan jalur saat pertama kali aku datang, dan sampailah kami disebuah pasar dan gang menuju arah Wisata Umbul Sidomukti (ada papan nama diatas jalan masuk gang yang lumayan sempit). Aku baru ingat, kali  pertama aku kesini, mobil kami datang dari arah berlawanan, jadi jika di kunjungan pertama mobil belok kiri, untuk kunjungan ke dua ini beloknya kanan. Ahh, entahlah… yang jelas, sampai di lokasipun suasana hatiku masih belum luluh juga. Pemandangan dan keadaaan tidak jauh beda dari pertama kali aku kesini, semua rekan Koko pun berbaur dan bercanda menikmati suasana Umbul, sampai didalam tujuan utama kami adalah di Kolam renangnya, tentu saja aku tidak akan berendam disana. Aku memilih berada disalah satu gasebo yang disediakan disana sambil menikmati beberapa snack yang ada dan menunggu koko yang asyik bermain air bersama yang lain. Setelah agak siang, semuanya pun mulai turun dan berganti pakaian lalu sembahyang. 
Muka sepet karena lagi bad mood banget
Sebelum keluar, beberapa rekan sempat berhenti di papan Flaying Fox, ada tiket gratis juga untuk naik, aku yang kemarin-kemarin berminat naik, gara-gara masih bete, memilih untuk tetap duduk dan tidak menikmati liburan kali ini, Justru Koko yang badannya segede beruang ikut naik Flaying Fox. Setelah semua selesai berflaying Fox ria, kami pun keluar dari lokasi lalu menuju ke warung makan lesehan yang ada di depan lokasi parkir Umbul Sidomukti. Disini suasana hatiku mulai lumer, mungkin karena pengaruh Kakap Saos Asam Manis yang luar biasa enak.. mungkin bisa dijadikan referensi,,, bagi siapapun yang merasa bete, sembuhkanlah dengan mencoba menikmati makanan lezat, terutama disaat perut mulai keronongan dan tinggal makan alias gratis..wwkkkk (saran yang menyesatkan, jangan dipercaya ya ya ya ya). Setelah selesai makan, kami pun pulang namun sebelumnya mampir dulu di pasar Bandungan (sudah tradisi ini) untuk membeli oleh-oleh yang umunya berupa buah-buahan, sayur mayur, ampyang, dll… dan perjalan kedua ku ke Sidomukti pun berakhir setelah kuranglebih pkl. 20.00 Wib sampai dirumah dengan selamat.
Nah.. Dan di akhir tahun 2012 yang lalu, 30 September 2012 (setahun 2 kali nich), aku lagi dan lagi mengunjungi Umbul Sidomukti yang bahkan tidak berniat untuk aku kunjungi 2x, kini justru aku kunjungi 3x. Namun kali ini perjalanan agak berbeda, berawal dari touring yang direncakan tim kantorku di Boyolali kota (udah beda perusahan nich dengan kunjungan pertama, tapi beberapa orangnya masih ada yang sama, Binggung kan??), kami berniat untuk melakukan perjalanan dengan beramai-ramai naik motor, lokasi tujuan belum ditentukan, namun kemudian cab depo yang ada di Simo Boyolali pun mengusulkan untuk naik mobil saja, sedikit ada perbedaan pendapat namun akhirnya kami pun menyepakati untuk ber motoran ria saja. Untuk lokasi tujuannya aku sendiri kurang jelas karena aku hanya ngikut aja, yang pasti adalah di daerah Semarang. Aku awalnya udah feeling bakal ke Umbul Sidomukti juga, tapi tiap aku tanya sama yang punya ide, ia malah ngga tau nama lokasi yang akan kami kunjungi.. haduwwww..siapa yang aneh nich??. 
Persiapan Berangkat
Well, hari H pun sudah didepan mata, kami berkumpul di kantor Boyolali, sedangkan rekan yang rumahnya di Salatiga sudah menunggu disana. Kami pun mulai bersiap untuk berangkat sekitar pukul 08.30, sangat molor dari waktu yang sudah ditentukan. Kali ini ada beberapa yang membawa pasangan namun banyak yang memilih untuk sendiri dan berboncengan dengan rekan satu kantor, dan aku tentu saja bersama my special driver dunk? Alias koko Bear. 
Mampir di pinggir jalan..hehe
Perjalanan agak memakan waktu karena kami mesti saling menjaga jarak satu sama lain, untuk jalur kali ini, aku masih ingat betul adalah jalur yang sama yang diambil tatkala perjalanan Sidomukti ke-2, yaitu lewat Ring Road dan melewati Getasan (bagaimana bisa lupa, ini kan nama daerah kelahiran Bambang Pamungkas20), dan ketika sampai disebuah gang besar, sudah sangat pasti kalau ini adalah akses jalan menuju ke Umbul Sidomukti..haduwww… berasa Hattrick dech… namun perjalanan kali ini agak berbeda karena kami naik motor dan lebih menikmati medan perjalana yang memang menantang. Beberapa menit kemudian, sampailah kami di lokasi tujuan, sayangnya suasana tidak sehijau ketika pertama dan kedua aku datang ke sini, berhubung memang musim kemaru,. Jadi banyak sekali lahan yang sengaja tidak ditanami sehingga nampak kering. Sebelum masuk ke lokasi, aku menyempatkan diri dulu berfoto ria dengan my patner dikerjaan sembari menanti bakso ojek yang aku pesan.
Kelihatan keringggg...
Nampak pemandangan kota dari atas bukit sidomukti
Setelah mendapat tiket dan masuk, tidak sepenuhnya menarik karena merasa terbiasa dengan pemandangan dan lokasi disana, agar suasana lebih beda, aku pun memilih turun ke tebing dan ikut nongkrong disebuah pos tempat pemberhentian Flaying fox. Kami pun bercanda ringan, sampai akhirnya melihat Pak Bos bergelantungan naik Flaying Fox, adrenalin pun kembali meningkat dan merengek kesemua yang ada disana untuk mau ikut ber Flaying Fox ria, akhirnya.. ada mas Bayu dan Mas Adil dari Indosat yang berminat juga, sambil mengekor dibelakang mereka, aku pun ngikut beli tiket yang aku lupa harganya karena ada dua jenis, 1 kali or 2 kali menyebrang, harga tiketnya tidak terlalu terpaut banyak, dari pada nanti mesti menyebrangi lembah dengan berjalan kaki, mending beli yang double tiket sekaligus. Antrian cukup panjang, dan degub jantungku pun semakin kencang. Setelah mengambil helm pengaman (sengaja aku pilih yang warna biru), aku pun ikut antri untuk dipasangi sabuk dan tali pengait. Giliran pertama mas Bayu, melihat dianya tergantung gantung, siiiiiiirrrrrrrrrrrrrrrrrrrr….aliran darah serasa mengalir begitu cepat hingga akhirnya giliranku. Petugas membimbingku untuk berjalan beberapa langkah, lalu bersiap dengan posisi orang mau duduk, setelah diberi aba-aba, meluncurlah diriku ini yang terkait dengan alat falying fox diatas jurang yang begitu dalam namun tidak berair… kesempatan meluncur inipun aku gunakan untuk berteriak sekencang-kencangnya. Sesaat sebelum sampai di pemberhentian pertama, rasanya flaying fox berjalan lebih cepat, harusnya sang petugas sudah membantuku melepaskan alat pengaman, eh malah aku dikerjain dan berulang ulang dilempar lagi ke tengah, hingga tergantung-gantunglah aku dan baru melepasnya kemudian, Flaying Fox pertama sukses.. kini giliran melanjutkan Flaying Fox kedua untuk kembali tentunya dengan jalur yang berbeda dari yang pertama.
Asyikk gelantungan seru !!
Petugas lain pun memasang alat pengaman lagi, dan siaplah aku meluncur untuk yang kedua kalinya… hemmmm, puasssssssssssssssssssss buanget dech,, dan pingin lagi ber-flaying fox ria.. hehe (tuch jadi ketagihan dech..!!), dasar… !!!. Puas bermain main di Umbul Sidomukti, kami bersiap melanjutkan perjalanan ke Candi Gedung Songo, sayangnya baru saja keluar dari pintu loket Umbul, salah satu sepeda motor rekanku bocor, terpaksa kami menanti untuk menambalnya dulu disebuah warung kecil didekat area itu, sialnya sang penambalnya baru ajaran alias masih amatiran, untuk sekedar menambal satu ban saja kami harus menanti lebih dari satu jam. Dalam kondisi yang mulai memanas, lapar, dan jenuh. Aku mencoba menyarankan kesalah satu panitia untuk makan saja dulu di warung atas yang memang recommended, tapi si panitia khawatir kalau bugjetnya cukup tinggi mengingat masih didalam obyel wisata, so ngga jadi dech dan semakin kelaparanlah kami-kami ini. Hampir menjelang siang, urusan ban bocor pun baru kelar, kami pun melanjutkan perjalanan dan rencana ke Candi Gedong Songo pun dibatalkan mengingat waktu sudah tidak memungkinkan dan beberapa peserta sudah nampak capek karena terlalu lama menunggu. Beriringan kami pun mengikuti motor yang didepan, sayangnya aku dan satu motor temanku kehilangan jejak setelah terjebak dalam kemacetan. Mencoba menghubungi beberapa rekan, karena sama-sama buta lokasi, petunjuk yang diberkan pun justru menjadi miss komunikasi, aku dan rekanku malah jadi muter muter ngga jelas, namun akhirnya sampailah kami ke lokasi rumah makan yang berada di pinggir jalan, entah apa nama rumah makannya aku lupa, yang jelas sejenis rumah makan seperti yang umumnya ada di Janti/ Tlatar (menyediakan ikan tawar goreng/ bakar). 
Leha leha setelah sampai warung...
Sesampai didalam, aku sudah melihat semua peserta nampak lemas dan tiduran di tempat lesehan. Lagi-lagi tidak seperti harapan, pelayanan tidak memuaskan, kami harus cukup lama menunggu hingga perut ini sudah tak lagi kuat menahan suara campur sari (keroncongan).. seteleah datang, aku pun agak kurang puas dengan rasanya yang biasa biasa saja, terlebih setelah si panitia membayar biaya total yang menurutku terlalu wow untuk ukuran pelayanan tersebut. Sesusai makan, kami pun memutuskan untuk pulang masing masing dan membebaskan pilihan jika ada yang berniat mampir di pasar Bandungan.
Nampang didepan warung ...
Keluar dari lokasi warung, koko ku menunjukkan padaku sebuah pita kuning yang wujudnya seperti Police Line, dimana bertuliskan “Belum Berizin : Satpol PP …..”. Weleh, agak shock juga aku, lalu kutunjukkan pita kuning itu pada beberapa rekan yang langsung berkomentar seru. Aku cuman berfikir, siapa sich yang merekomendasikan tempat makan ini? Secara dari kualitas tidak memuaskan dan wajar karena memang belum berijin.. wow !! Whatever…lah !!
Sebelum pulang, hampir semua pesera touring pun ikut mampir di pasar Bandungan, selesai membeli yang kami perlukan, kami pulang sendiri-sendiri. Aku dan koko berada dipaling akhir keluar dari tempat parkir, dan kami pun kehilangan jejak lagi dengan yang lain, yach karena mau pulang.. aku dan koko pun memilih jalan sama dengan jalur pemberangkatan,,,hehe, sedangkan yang lain ternyata lewat jalur Rawa Pening. Sekitar pukul 20.00, sampailah aku dan koko dirumah.. Dan berakhirlah petualangan ke-tiga ku di Sidomukti, namun kali ini aku cukup puas setelah ber Flaying Fox.


*Forza Inter Milan 1908x….*

Thursday, October 24, 2013

Jejak Petualang di Lereng Gunung Lawu : Kemuning I'm Coming



Tema kali ini adalah membangkitkan kembali semangat berpetualang yang sempat diredam beberapa waktu yang lalu karena alasan yang memang pantas untuk dipertanggung jawabkan…ceile.. Akhirnya kesampaian juga untuk mengulas perjalanan tunggalku bersama my Koko Bear ke sebuah dataran tinggi di lereng Gunung Lawu. Agar perjalanan yang sempat kami jalani ini ngga hanya terekam dalam ingatan tapi juga terukir dalam kenangan, maka aku tulis saja jejak petualangan ini.
Sebenarnya sudah jauh hari aku ingin sekali mengunjungi area wisata Kemuning ini karena hampir 2 tahun tidak lagi melihat pemandangan yang menghijaukan mata disana, terakhir kali kesana, aku hampir saja bisa naik menuju ke Candi Cetho, tapi karena kondisi cuaca disana yang tidak menentu, aku dan beberapa temanku terpaksa mengurungkan diri untuk naik karena hujan sudah mendahului langkah kami. Untuk perjalanan kali ini aku dan koko bersiap dari rumah (Boyolali) pukul delapan kurang, kami memilih jalur Ngasem-Colomadu-Fajar Indah, lalu belok ke arah terminal Tirtonadi hingga tembus di perempatan Jebres. Dari Jebres kami terus melaju melewati Boulevard UNS-Taman Wisata Jurug hingga sampai di Palur. Perjalanan kami teruskan sampai memasuki Jaten, kali ini aku meminta koko untuk pelan-pelan mengendarai motornya karena aku ingin mencari lokasi Warung Mie Ayam dan Bakso Inter Milan yang sempat direkomendasikan di group ICI Regional Solo, sayangnya saat melewati warung tersebut, nampak belum ada tanda-tanda persiapan buka L. Motor pun berjalan lebih cepat, namun lagi-lagi saat hendak masuk jalur Karanganyar Kota, jalan ditutup sementara karena acara Car Free Day (waktu ke Sarangan juga terjadi hal sama, dan kami harus melalui jalur alternatif yang muter-muter sampai pabrik gula), namun untuk kesempatan kali ini aku meminta sang pengemudi…hahaaa, untuk memilih jalur kampung saja, dan setelah muter-muter, kami pun sampai di jalur utama lagi dan siap melaju lebih cepat ke lokasi tujuan. Jalan yang kami pilih adalah jalur yang sama jika hendak menuju ke Tawangmangu, namun sebelum sampai di atas, di sebuah tikungan tajam, sebelah kiri jalan (tentunya dari arah Karanganyar kota ya..) kita akan melihat gapura besar bertuliskan “Kawasan Wisata Sukuh-Cetho”, dan akan ada jalan panjang menuju ke kawasan wisata itu.
Gapuro dari jalur utama
Jangan berpikir tempat wisatanya sudah dekat, kenyataannya kami masih harus menempuh beberapa menit perjalanan dengan motor, ditengah perjalanan kami dihentikan oleh petugas retribusi dimana kami diwajibkan membayar karcis masuk lokasi wisata sebesar Rp. 1000,00 (murah bener yach). 
Pos Retribusi Masuk ke Kawasan Wisata
Kami terus melanjutkan perjalanan, hingga sampai disebuah pertigaan, nah karena tujuan utama kami ke Agrowisata Kebun Teh Kemuning, kami memilih belok kiri lalu lurus mengikuti jalan utama (didekat pertigaan tadi ada jalan cabang dan naik curam, itu adalah jalur jika ingin ke Air terjun Parang Kusumo).
Sekitar 5 menit kemudian mataku sudah dihibur dengan hijaunya pemandangan kebun teh yang nampak dari kejauhan, aku pertama kali datang ke lokasi ini adalah ketika praktek mata kuliah perkebunan. Dari pertama kali hingga sekarang, keindahan, keasrian, dan kesejukan Kemuning masih selalu menghipnotisku. Oiya.. bagi pemula yang ingin berlibur ke tempat ini harus hati hati, karena selain medannya yang naik turun, jalannya juga sempit dan banyak lubang, terlebih jika sudah masuk siang area ini sering diguyur hujan sekalipun saat musim kemarau.
Numpang ng-eksis dulu di pinggir jalan
Koko Bear Bergaya di Atas Scorpy nya
Dan,,, akhirnya setelah 1 jam lebih sedikit kami melalui perjalan panjang, sekitar pukul 09.00 Wib sampailah kami di hamparan pemandanan tanaman teh yang sangat luas.. sesaat kami menghentikan motor dan tentunya mengabadikan foto untuk kenang-kenangan, sayangnya Koko Bear ku tidak pernah mau diajak foto bersama ataupun aku ambil fotonya secara langsung, dia lebih asyik mengambil gambar Scorpy-nya yang nangkring di pinggir jalan. Tidak perlu berlama-lama beraksi dipinggir jalan, kami pun memutuskan untuk naik menuju ke Obyek Wisata Candi Cetho. Jalannya agak curam, apalagi belokannya berada tepat di tikungan dan jalannya juga naik cukup tinggi, untung Scorpy siap membawa kami berdua melintasi jalan tersebut. Di bibir jalan, kami dihentikan oleh “mbak-mbak” penjaga pintu retribusi, kami pun harus membayar biaya restribusi Rp. 1000,00 lalu melanjutkan perjalanan kembali. Semakin naik, udara semakin dingin, dan nampak mendung mulai mengitari daerah tersebut. Dengan jalan yang terus menanjak, terjal dan banyak lubang, sampailah kami di lokasi yang sudah dari zaman ABG pingin banget aku kunjungi, yaitu Candi Cetho, sebuah Candi Hindu yang terletak di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Jenawi, Karanganyar, Jawa Tengah.
Sebelum masuk kami harus membeli tiket masuk dulu seharga Rp. 3000,00/orang (biaya parkir motor kalau ngga salah Rp. 2000,00). Setelah tiket ditangan, kami pun melenggangkan kaki berjalan menuju ke Candi, dimana pada pintu utama kami sudah disambut dengan anak tangga yang lumayan buanyakk, sampai diatas, ada sedikit bagian datar yang berisi taman, papan nama dan papan informasi tentang sejarah Candi Cetho sebelum kemudian ada anak tangga lagi yang jumlahnya ngga terlalu banyak dari anak tangga pertama. Tak kusia-siakan kesempatan untuk berfoto ria di gapura masuk ini, sayangnya hasilnya seperti siluet karena tidak didukung pencahayaan yang bagus (tapi agak keren juga sich).
Foto diambang gapura utama
Memasuki area Candi Cetho, ternyata candi tersebut berbentuk seperti punden berundak, jadi setiap kami memasuki bagian tertentu, kami harus menaiki anak tangga dahulu. Bagian pertama hanya berisi taman dan lumayan cukup luas, naik ke tingkat diatasnya, kami melihat ada batu yang ditata ditanah membentuk simbol simbol khusus yang ngga aku pahami, selain itu juga ada dua arca kecil namun bentuknya sudah tidak sempurna lagi. Kami pun menaiki tingkat diatasnya, diatasnya dan diatasnya lagi (lupa juga sich ada berapa tingkat bagaian, yang jelas tidak lupa disetiap tingkat aku selalu mengabadikannya dengan kamera HP koko Bear ku).
Aras pertama yang berupa taman
Sebuah Bangunan disalah satu aras
Sedikit informasi yang aku comot dari wikipedia.com (biar nambah ilmu gitu) Candi Cetho ini ternyata sudah beberapa kali mengalami pemugaran, dan sekarang ini ada sembilan tingkatan, Bagian (aras) pertama setelah gapura masuk berupa halaman candi yang tadi aku tulis berisi taman, pada aras kedua masih berupa halaman dan terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi yang merupakan leluhur masyarakat Dusun Cetho. 
Pada aras ketiga inilah terdapat tumpukan batu mendatar dipermukaan tanah berbentuk simbol yang merupakan wujud dari kura-kura raksasa, Surya Majapahit (diduga lambang Majapahit), simbol Phallus (berbentuk seperti penis), selain itu juga ada simbol hewan seeprti katak, mimi, dan ketam (sejenis kepiting). Pada aras keempat, dapat ditemui sebuah jajaran batu pada dua dataran yang bersebelahan (seperti panggung dengan tinggi sekitar 50 cm) dan memuat relief cuplikan kisah Sudhamala. 
Numpang nampang di aras ke lima
Sedangkan aras selanjutnya, yaitu kelima dan keenam, masing-masing terdapat bangunan-bangunan pendopo disisi kanan dan disisi kiri dimana mengapit jalan masuk ke candi. Disalah satu pendapa ini aku dan Koko sempat duduk sembentar untuk rehat dan melihat bagian aras dibawah kami, sedangkan kokoku justru sibuk memperhatikan banyaknya bangunan tower/ BTS beberapa provider seluler yang nangkring dihalaman depan Candi (seolah berlomba mencari lokasi terbaik untuk memancarkan jaringannya). Kembali ke pendopo di aras kelima dan keenam ini, ternyata sampai sekarang pendopo ini masih digunakan untuk melangsungkan upacara keagaaman. Selanjutnya, di aras ketujuh, terdapat bangunan seperti pendopo kecil disisi kanan dan kiri menghadap ke dua arca di depannya yaitu arca Sabdapalon disisi utara dan Nayagenggong disisi selatan yang masing-masing ditempatkan dalam gasebo kayu dengan satu pintu terbuka. Saat kami disana, masih ada beberapa bekas kemenyan dan bunga sedap malam yang sepertinya sebagai bagian dari upacara ritual keagaaman. Selain itu, didekat bangunan gasebo juga terdapat bangunan lain yang tertutup dan digembok, sepertinya tempat untuk menyimpan alat ibadah.
Arca phallus (kuntobimo)
Arca Brawijaya V dalam wujud Mahadewa



















Kami kemudian melanjutkan naik ke tingkat selanjutnya, di aras ke delapan ini masih ditemui bentuk dan jenis bangunan yang sama persis dengan aras ketujuh, bedanya hanya dari jenis arca yang ada di dalam bangunan berbentuk gasebo itu, pada sisi utara terdapat arca berbentuk phallus yang disebut kuntobimo, melihat bentuk nya, pasti bikin geli, lebih lebih para kaum adam..heheee, sedangkan di sisi selatan terdapat arca Brawijaya V dalam wujud Mahadewa. Dan, satu unden berundak lagi yang mesti kami lalui untuk mencapai di aras terakhir atau aras ke sembilan. Disinilah terdapat bangunan Candi Utama yang bentuknya seperti limas segi empat, ukurannya tidak terlalu besar, di bagian tengah masih terdapat anak tangga menuju bagian dalam Candi, namun diatas tangga tersebut dipasang pintu besi dan terkunci dimana berarti para pengunjung dilarang masuk ke dalam area Candi Utama. Kemungkinan besar untuk menjaga kesucian Candi tersebut. Aku pun lalu melihat sekitar candi tersebut, dan disisi bagian utara, terdapat batu candi yang rusak dan membuat dinding candi nampak seperti akan roboh. Kesempatan berada di aras sembilan ini pun tidak aku sia-siakan untuk kembali beraksi layaknya model diponsel pribadi. Selain dengan background Candi Utama, pengambilan foto dari gapura dan diarahkan ke bawah juga cukup bagus, karena akan nampak seperti lorong ruangan yang menurun. Nich foto-foto yang aku ambil dari aras kesembilan :
Candi Utama (Hoby ku adalah moto miring-miring)
Foto yang diambil dari aras sembilan diarahkan kebawah
My favorit pose (obsesi jadi cicak kayaknya nich)
Setelah matigaya didepan kamera, kami pun memutuskan untuk turun, namun mataku sempat melihat petunjuk arah ke Candi Kethek, aku pun mengajak koko untuk belok ke arah itu. Tapi ternyata masih perlu berjalan naik lagi untuk mencapai lokasi tersebut, dan kami memutuskan untuk tidak mengunjungi Candi Kethek (karena kurang familiar dan sepertinya tidak terlalu menarik), tapi bagi yang kepingin melihat bagaimana bentuk candi tersebut, tak ada salahnya untuk berjalan lagi sekitar 300 m dari pintu loket Candi Kethek, selain itu, dikomplek tersebut juga ada Puri Saraswati yang diresmikan pad tahun 2004, dimana merupakan wujud tali persaudaraan antara masyarakat Dukuh Cetha dan sekitarnya dengan masyarakat Gianyar, Bali yang mempunyai persamaan spiritual dalam keagamaan. Berhubung aku tidak menuju lokasi tersebut, aku lampirkan foto yang aku dapat dari hasil browsing saja sekedar untuk informasi.



Candi Kethek
Puri Saraswati
Hanya sekitar 30 menit kami berada di Candi Cetho lalu perjalananpun kami lanjutkan. Seperti rencana sebelumnya, aku ingin sekali mengabadikan foto didekat area kebun teh. Sesampai area perkebunan teh, Koko kemudian mengarahkan motornya kejalan setapak dan mencari view yang bagus untuk berpose, kemudian aku pilih disebuah tikungan yang tak beraspal, setelah agak kesulitan memarkirkan motor karena jalan landai dan tidak beraturan, koko pun kemudian beraksi menjadi fotografer untukku yang seolah menjadi uler yang sedang naik daun. Hahaaaa…., Moment ini pun aku gunakan untuk mengambil foto Koko dari kejauhan. 
Pose Si Uler naik Daun..hahaa
Setelah beraksi dikebun Teh, perjalanan kami lanjutkan. Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul 10.10 Wib, sekalian ada diarea wisata, aku pun mengajak Koko ke Air terjun Parang Kusumo, awalnya koko menolak tapi karena aku pikir masih terlalu pagi untuk pulang, ngga ada salahnya ke satu obyek wisata lagi. Di area ini memang ada beberapa objek wisata lainnya, seperti Candi Sukuh yang lokasinya agak dibawah, namun Candi sukuh relatif kecil dan tidak terlalu ramai, selain itu ada Air terjun Jumog juga, air terjun ini adalah air terjun alami, namun tidak terlalu tinggi dan sewaktu terakhir aku kesana, suasananya sangat kotor dan tidak terawat. Karena Air Terjun Parang Kusumo adalah yang belum aku kunjungi, aku pun ingin sekali kesana. Mumpung masih berada disatu lokasi juga.
Beranjaklah kami ke air terjun tersebut, menyusuri jalan yang sama saat tadi kami berangkat, setelah melewati pabrik Teh, beberapa meter kemudian kami dipertemukan lagi dengan pertigaan awal, namun sebelum pertigaan utama tersebut, disebelah kiri jalan ada jalan menanjak akses menuju ke Air Terjun Parang Kusumo, dengan belokan yang agak menikuk, akhirnya kami berhasil naik juga. Jalannya tidak kalah sempit, terjal dan penuh belokan curam. Tidak butuh waktu lama, kami pun sudah menemukan petunjuk arah ke Air terjun, sesampai diparkiran, ternyata sudah ada sekitar 50 motor parkir disana, lebih ramai sepertinya daripada di Candi Cetho. Dengan membayar tiket seharga Rp. 3000,00/ orang, kami pun menyusuri jalan setapak yang kupikir akan sangat jauh seperti jika kita berkunjung ke obyek Air Terjun, tapi ternyata tidak.
Saat masuk, kami sudah disambut dengan anak tangga menurun dan tanaman palm disekitarnya, menurutku tamannya sangat asri dan sudah banyak campur tangan manusia dilokasi ini, benar sepertinya kata salah satu temanku di Group ICI Solo kalau air terjun ini adalah air terjun buatan. Seiring menyusuri jalan, tak lupa setiap ada lokasi bagus, aku selalu berfoto ria.. Sendiri,,ya berfoto sendiri dengan sangat bangganya terlebih saat itu aku memakai jersey Inter Milan (Koko Bearnya ngga pernah mau diajak foto.. takut gantengnya ilang kaleee tuch orang).
Bangga ber-jersey Biru-Hitam
Suasana Taman di Parang Kusmumo
Sebelum masuk ke area air terjun, ada sebuah tempat datar yang berfungi untuk bersantai sesaat, namun aku tak mau berlama-lama, aku pun langsung menuju ke anak air terjun kecil, berbagai gaya aku lakukan disekitar tempat itu, tapi entahlah kenapa hasilnya semua kabur ya?? (hehee..apakah ada something wrong ditempat itu), tak mau berfikir aneh-aneh, kam pun naik ke dekat air terjuan. 
Gambar yang paling tidak terlihat kaburrr
Yeach..tepat seperti kata temanku, air terjun ini memang nampak ada campur tangan manusia. Air yang turun dari atas bukit memang tidak deras, itupun jika aku menengok keatas, nampak ada sebuah papan penyangga diatas yang seolah memberikan tambahan jalan air terjun sehingga air tampak mengucur dan baru jatuh kebawah mengenai dinding-dinding tebing, jika tanpa saluran tambahan tersebut, aku fikir air hanya akan merembes didinding tebing dan tidak akan nampak seperti air terjun semestinya. Air yang jatuh pun tidak memberikan efek embun yang banyak seperti jika kita berada di Jumog ataupun di Kedung Kayang (dengan ketinggian yang hampir sama).
Pehatikan bagian tambahan diatas bukitnya
Air terjun yang mengenai dinding tebing
Tetep nampang meski sendal sudah mau jebat
Puas menikmati suasana di air terjun Parang Kusumo, kami pun memutuskan untuk pulang, terlebih kondisi sendalku yang hampir jebat tidak memungkinkan aku untuk berlama lama didekat air. Kami keluar melalu jaur yang berbeda dan melewati sebuah kolam renang buatan yang terdapat beberapa keluarga tengah berenang disana. Sesampai diparkiran, kami pun menyiapkan perlengkapan seperti kaos tangan dan slayer karena setelah ini kami memutuskan untuk langusng meluncur turun dan mampir ke Warung Mie Ayam dan Bakso Inter Milan. Perjalanan turun terasa jauh lebih cepat, namun kondisi cuaca semakin kebawah, semakin terasa panasnya. Sesampai di Karanganyar kota, aku berharap Warung itu buka (karena tanda-tanda awal seperti tidak buka), dan benar.. tepat melewatinya, ternyata warung itu tutup dengan sangat manisnya, tentu saja Koko ku pasti seneng banget dech.. Berhubung perut sudah sangat lapar, kami akhirnya beralih haluan untuk berhenti di salah satu warung steak yang berlokasi di Pasar Nongko Solo. Dan perjalan menyusuri lereng Gunung Lawu pun aku akhiri sampai disini, semoga bermanfaat danSampai jumpa di perjalan selanjutnya yang semoga lebih seru dan penuh tantangan.


*Forza Inter Milan 1908x….*

Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Ceto
http://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Kethek