Thursday, September 5, 2013

Jejak Petualang : Perjalanan "Sial" Menuju Tawangmangu



Journey berikutnya yang hendak aku tuangkan dalam cerita ini adalah perjalananku bersama rombongan kru panitia Wisata ke Borobudur kemarin. Touring berikutnya yang kami rencanakan berjalan-jalan ke Tawangmangu, Karanganyar adalah rangkaian perjalanan dalam rangka pembubaran panitia. Atas usul rekan-rekan satu tim, pembubaran yang biasanya hanya makan-makan saja, akhirnya dialihkan ke acara jalan-jalan ke Tawangmangu. 26 Maret 2009, kami bersiap untuk berangkat. Sayangnya soulmate ku, Ali Akbar ngga bisa ikut diacara Touring kali ini karena ia harus masuk kerja. Kami pun bersiap berangkat dari rumah sekitar pukul 09.00, tapi agak molor karena mesti menunggu satu dan lain orang. Awalnya aku pikir aku bakal jadi cewek sendiri diantara beberapa rombongan cowok, tapi untungnya ada salah satu tetanggaku lainnya, bernama Rizka yang mau ikut bergabung, jujur sich ak emang ngga terlalu deket sama dia, pa lagi usianya agak jauh dibawahku.
Sekitar pukul 09.15 an (lebih kayaknya).. rombongan kami pun melaju ke TW (Tawangangu) melewati jalur Ngasem-Fajar Indah-Manahan-Jebres-Jaten-sampai masuk ke jalan arah Karangpandan. Kala itu aku berbonjengan dengan Eko dengan menggunakan motor supraku. Peserta touring kala itu sekitar 9 orang (5 motor, yang satu senidirian). Perjalanan yang emang seru karena sepanjang perjalanan kami heboh sendiri-sendiri, saling salip satu per satu, atau berteriak-teriak ngga penting. Sampai akhirnya kami sampai didaerah atas Terminal Karangpandan (tikungan arah ke Kemuning masih naik lagi), lupa aku nama daerahnya mana, tapi pas ditikungan itulah Touring yang awalnya berniat untuk happy-happy ini menjadi touring “ngenes” yang mengelikan dan menyesakkan, tapi sungguh pengalaman yang tak terduga yang pernah aku alami, biasanya sich kalau jalan-jalan endingnya seneng-seneng aja, kalau yang ini,,seneppp terus.
Kala itu, di tikungan yang tadi aku sebutkan, 2 temenku yang mengemudi didepan masih santai dan lolos saat mendadak ada rombongan polisi melakukan rasia kelengkapan pengemudi. 2 temen ku didepan aman karena mereka lengkap, sedangkan satu temanku dibelakangnya (kalau tidak salah Gundul), dia dengan terpaksa harus berdebat kecil dengan polisi karena tidak punya SIM. Aku sudah tak sempat tau kondisi teman-temanku itu karena mendadak Eko sudah membelokkan motor diikuti Irul, temanku satunya yang mengendarai motor sendirian. Kami mengikuti orang yang juga punya alternative untuk mencari jalan kampong lainnya. Kami mengikuti jalan itu, sampai kami benar-benar tak tahu kami sampai dimana. Jalan kampong, naik turun, berdebu, disekitar lahan pertanian, entah suasana dan view baru yang ak temui di area TW. Hampir 15 menit lebih kami belum juga menemukan jalan tembus ke jalur utama, malah bahkan kami tersesat sampai di Astana Giri Bangun. Berhenti bertanya pada penduduk setempat tidak cukup satu-dua kali. Aku justru merasa kasian pada temanku yang satu lagi, sedari tadi dia ngikuti aku sama temenku, padahal kami sendiri juga buta jalan. Hehee
Setelah muter-muter jalan kampung ngga karuan, akhirnya kami bertemu juga dengan jalan utama, dan syukurlah tidak terlalu jauh dari lokasi air terjun TW. 3 menit kemudian kami sudah sampai diatas pasar Tawangmangu, dan 3 temanku yang lain, yang tadi sempat terpisah menanti kami dipinggir jalan. Ternyata temanku yang tadi sempat berdebat dengan polisi harus sodakoh karena kena tilang, nominalnya aku lupa, kaloa ngga salah sich 25-30 Rb. Perjalanan yang agak aneh ini pun kami lanjutkan menuju ke area Air Terjun yang paling tinggal beberapa meter lagi. Setelah samapi di parkiran dan membeli tiket, kami menyusuri anak tangga menurun menuju ke lokasi air terjun. Sepanjang perjalanan menuruni anak tangga, kami masih saja ribut dan heboh dengan cerita pengalaman masing. Lucu aja dengerin mereka pada ngomel-ngomel, kalau aku fikir sich, ya salah siapa pada berani naik motor tapi ngga lengkap surat-suratnya. Paling seneng tuch temenku satunya, sebut saja dia Popon, kebetulan banget dia abis bikin SIM, so dia bangga banget karena bisa “ngreyen” SIM nya. Sesekali terdengar kelakar syukur nya karena punya SIM baru. Aneh-aneh aja.
Air Terjun Dari Kejauhan
Keluarga Kera dan Anak Mereka
Setelah beberapa menit kami menuju ke dasar, akhirnya terlihat sudah air terjun yang terkenal di daerah Karanganyar ini, selain disebut air terjun Tawangmangu, Air terjun ini terkenal pula dengan nama Drojokan Sewu (Aitr terjun seribu). Tawangmangu terletak di lereng barat Gunung Lawu, berada pada arel pegunungan yang subur dikelilingi oleh hutan dan perbukitan. Area wisata ini juga dilengkapi dengan fasilitas flying fox, arung jeram kecil, duta playground dengan pemancingannya, dan arena outbond dengan taman lalu lintas dan kereta pohon. Selain manusia, ribuan kera juga betah berlama-lama di sini. Mereka berkeliaran dengan bebas tanpa rasa takut pada manusia, bahkan ada dari mereka yang merebut tas atau camilan yang dibawa pengunjung, para pengunjung sebenarnya sudah dilarang untuk melempar/memberi makanan pada kera-kera tersebut, papan pemberitahuan tertulis ditepi taman sepanjang jalan obyek wisata tersebut. Namun terkadang meilhat tingkah si kera, membuat para pengunjung ingin menggoda mereka dengan makanan.
Welcome to the Drojokan Sewu
Tetep Gila Walau Habis Kena Tilang
Sesampai didasar, kami tidak langsung segera masuk ke air yang ada dibawah derasnya guyuran air terjun, tapi memilih berjalan-jalan sebentar di bukt kecil dengan melewati jembatan kecil, menurut mitosnya, bagi siapa yang datang kesitu berpasangan dan berfoto di jembatan kecil tersebut, mereka tidak akan langgeng, tapi lepas benar tidaknya, tergantung tiap indivu masing-masing. Disekitar jalan menuju bukit (yang ternyata biasa untuk kegiatan alam out bond), ternyata ditemui juga tempat ibadah, toilet serta beberapa pedagang sate kelinci yang merupakan menu special di daerah Tawangmangu. Para pedagang disana pun juga menyewakan tikar jika ingin bersantai sambil menikmati makanan, tapi kami memilih untuk terus berjalan sambil berfoto-foto ria. Setelah bosan, kami pun turun dan berniat menuju ke bawah air terjun.
Jalan Setapak Bukit Untuk Out Bond
Nampang Dulu Foto didepan Cewek Ngga dikenal
Dingin Bro !!
Percikan air dari air terjun sudah terasa sampai di depan Jembatan kecil tadi, untuk menuju kebawah guyuran air hujan, kami harus menapak pelan batu-batu besar yang ada di sekitar sungai itu. Selain besar batu-batu itu juga licin, jadi kami perlu sangat berhati-hati bahkan perlu melepas alas kaki biar lebih aman. Sebelum mendekat keair terjun, aku sudah menyiapkan beberapa plastic kecil bening untuk membungkur Handphone sehingga jika kami hendak mengambil foto didekat air terjun, HP tidak basah. Walaupun hasilnya kurang memuaskan karena layar kamera tertutup embun air dari air terjun, namun kami tetap asyik saja berfoto ria. Setelah kedinginan karena memang suhu air disana lumayan dingin, kamu pun bergegas “mentas” dan mengahangatkan diri sambil duduk-duduk disekitar anak tangga.
Menghangatkan Diri Sambil Narsis
Capek-Capek tetep Berpose Ria
 Beberapa menit kemudian kami memutuskan untuk kembali pulang. Jalan yang tadi kami tempuh dengan menurun, kini kami mesti sedikit ngos-ngosan karena kami mesti mendaki satu per satu tangga yang ternyata tidak segera berujung. Disetiap tempat mendatar, terdapat pondok kecil tempat untuk sekedar melepas lelah sebentar, kami menemukan pondok yang kosong, dan duduk sesat disana sambil memutuskan hendak mencari makan apa. Berhubung uang yang tersisa tidak banyak, aku mengusulkan jika menambah iuran tiap anak Rp. 5000,- dan mereka pun setuju. Lalu memilih untuk makan saja di bawah (di Solo), karena tentunya makan didekat objek wisata akan mahal, dan mereka juga kurnag setuju makan sate kelinci. Aku kembali mengusulkan untuk makan saja di dekat Jurug karena disana ada ayam goreng tulang lunak yang kala itu satu porsi masih sekitar Rp. 10.000,-.
Setelah semua sepakat, kami melanjutkan perjalanan pulang meskipun dengan kondisi pakaian yang bsah kuyup karena terkena ar waktu di bawah air terjun tadi. Namun sudah menjadi kebiasan kami kalau kami pergi ke tempat yang berair, pulang tidak pernah berganti baju kering, memilih membiarkan tubuh diselimuti pakaian basah. Perjalan dari Tawangmangu-Palur lumayan cukup singkat tidak ada cerita menarik apapun, namun ketika hendak memasuki arah ke Solo, lagi-lagi masalah menghampiri kami. Jauh sebelum menyebrang ril KA di Palur aku sudah punya feeling dan firasat dan bermaksud untuk meminta teman-teman yang punya SIM untuk berjalan lebih dulu karena biasanya di depan Jurug pasti ada Rasia lagi,tapi entah kenapa niatku tidak jadi aku utarakan, dan tepat, setelah sampai dijembatan bengawan solo, kami melihat didepan kami sudah ada rasia polisi. Kami sudah tak bisa berbalik arah lagi karena jalannya searah. Dan betapa konyolnya kami, ketika itu temanku memanggilku dan meminta ku untuk beralih memboncengkan dirinya, aku pun turun dan beralih ke dia (padahal kan yang boncengin aku juga ga komplit). Karena tak bisa berbuat apa-apa lagi, kami pun terpaksa menghadang maut. Sayangnya ternyata si polisi ada yang tau kalau aku sempat bertukar posisi. Dan dengan sangat terpaksa, kami pun diminta untuk mengurus surat tilang dipos yang sudah disediakan. Banyak sekali orang yang ternyata kena tilang ditempat itu. 3 temanku pun menghadap ke meja tilang dan temanku yang lain membantu untuk membujuk polisi supaya tidak harus siding, akhirnya uang yang sebelumnya kami rencanakan untuk membeli makan, terpaksa harus dipakai untuk membayar uang tilang 3x Rp. 20.000,-. Kami yang aman dari kasus tilang, duduk di tepi jalan sembari menunggu teman kami berurusan dengan polisi lalu lintas. Popon, temenku yang punya SIM baru, lagi-lagi bergaya bangga tapi lucu karena bisa menggunakan SIM barunya 2xberturut-turut dalam 1 hari. Sedangkan paling melas, adalah si Gundul, ia yang pas berangkat kena tilang, kini kena lagi. Double tilang dalam sehari. Setelah semua selesai, rasanya kami ogah-ogahan untuk pulang, lemes dan males banget karena sedari tadi sial terus, yang lebih menyakitkan adalah ketika aku member tahu teman-temanku kalau warung Ayam Goreng Tulang Lunak hanya berada diseberang jalan dari lokasi rasia. Dan kini kami hanya bisa menatap hampa, dengan perut yang sangat lapar.
“Wahh arep ngrasakke Tulang Lunak we ra sido, ngasi wes baying-bayangke” kelakar salah satu temanku yang artinya –Hendak mencicipi rasanya Tulang Lunak aja tidak jadi, padahal udah terbayang-bayang-.
Tanpa ada sisa uang lebih, kami tidak mungkin untuk makan di daerah Solo. Kami memutuskan untuk kembali pulang saja, dan entah nanti soal makan bisa kami pikirkan belakangan. Dengan langkah gontai, kami pun pulang. Tapi sebelumnya aku berpesan, karena biasanya di batas kota  Sukoharjo-Boyolali juga sering terjadi rasia polisi, sebelum sampai dilokasi tersebut, kami memilik jalan tembus lain melewati jalan-jalan kampung, dan sekitar pukul 16.30 kami sudah sampai di Banyudono, bumi pertiwi kami. Namun nasib sial belum juga lepas dari kami, salah satu motor temanku ternyata mengalami kendala, aku agak lupa masalahnya apa. Seingatku ada sekrup yang hilang, dan temanku itu takut kalau pulang dalam kondisi demikian, pasti bakal kena semprot sanga Babe, akhirnya kami mengantarkan dia ke bengkel yang sudah menjadi langganan kami. Disaat yang lain menunggu dibengkel, aku dan Bagus pamit sebentar ke untuk cek up kesehatan ke salah satu bidan desa karena telah dijadwalkan dihari itu, pukul 16.00 semua panitia Pemilu harus dites kesehatannya. Tes tersebut tidak lama, 10 menit kemudian kami sudah kembali ke bengkel, dan kami berfikir ulang karena selain capek, kami juga sangat lapar. Uang yang tersisa hanya sekitar Rp. 50.000,-, Bagus mengusulkan uang seadanya itu untuk beli NasGor dibelakang kecamatan saja, entah mau dapat seberapa, yang penting makan dulu. Kami pun menuju ke lokasi warung tersebut, dan si pemilik yang sudah akrab dengan teman-temanku pun tidak keberatan membuatkan NasGor dengan sisa uang kami untuk ber-sembilan orang.
Kelaparan Menanti Nasi Goreng
Nasi Goreng yang hanya seberapa itu, rasanya begitu mak Nyuss ditenggorakan dan perut kami, Rasa lelah, bĂȘte, sebal, konyol, lucu dan apapun itu, seolah berbaur dan campur aduk menjadi satu. Aku sendiri pun mendapat cerita dan pengalaman yang tak bisa aku lupakan, pasti tau cerita ini, Ali akan mengejekku habis-habisan. Kami meresa tidak enak hati dengan Rizka, karena baru sekali ia ikut, sudah kena sial dari pagi-sore.
“Wah.. sesuk neh mesti Rizka kapok ki melu dolan. Yen Indri wes ra ngefek” celoteh temenku  lagi yang artiny –Besuk lagi pasti Rizka jera ikut main lagi, kalo Indri sich udah ngga ngaruh-
Yach emang, aku tergolong cewek yang sering jalan sama mereka, dan sudah banyak capek-lelah-tawa-gembira yang kami jalani bersama-sama, jadi benar kalau aku ngga mungkin jera Touring lagi hanya gara-gara perjalanan sial dihari ini. Kami kemudian memutuskan pulang setelah matahari mulai besembunyi. Meskipun bukan kali pertama dan terakhir aku berkunjung ke Air Terjun Tawangmangu, tapi justru inilah pengalaman seru yang masih terus terbayang dimemory ingatanku. Cayooooo !!!!
Semangat terus In.. untuk mencari cerita perjalanan seru ditempat lainnya.. dan Demikian perjalanan Tawangamangu Ngenes ini aku akhiri. Sampai Jumpa...
Kru Tawangmangu "Ngenes"


"_"



*Forza Inter Milan 1908….*
 

Tuesday, September 3, 2013

Ngesrep City, Journey to the Borobudur-Parangtritis-Malioboro



Akhirnya setelah diniati, kesampaian juga membuat cerita tentang pengalaman touring (pinjem istilahnya saja yach..) yang pernah aku lakukan, baik itu bersama The Black Community (nama Geng ku  saat aku masih muda.. sekarang udah tua kayaknya dech), touring bersama rekan-rekankerja atau bahkan single touring bersama suami tercinta.
Pantai Parangtritis

Candi Borobudur







Untuk kesempatan kali ini aku hendak bercerita tentang perjalanan touringku bersama the Wangsit (WargaNgesrep City) dimana aku tinggal di kampong kecil ini sejak tahun 2002 silam. Touring yang berlangsung pada tanggal 15Maret 2013 ini merupakan Touring yang diadakan oleh kumpulan SatyaRemaja 83, yaitu sebuah organisasi pemuda-pemudi di kampong kecilku ini (Kesempatan kali ini Touring dijalankan dengan naik Bus bukan motoran). Tahun 2008-2009 itu adalah tahun dimana aku aktif jadi pengurus di organisasi tersebut, selain ketua remajanya yang bernama Ali Akbar adalah sahabatku sedari kecil, ditahun-tahun itu aku masih hoby banget bersosialisasi.
Rencana touring pun dirundingkan hingga benar-benar matang, bahkan tempat konfrensi rapat panitia kecil setiap sore-malam hari digelar dirumahku yang pada waktu itu tanpa sengaja menjadi basecame The Black Community. Rencan awal hendak menujuke Kyai Langgeng, namun karena dulu sudah pernah kesana, akhirnya beralih ke Borobudur, secara aku waktu berlum pernah menginjakkan kaki kesana, jadi agak semangat nich. Akhirnya, keputusan pun diambil, tujuan Touring adalah Borobudur-Parangtristis-Malioboro. Satu bus pariwisata bermuatan 40an orang kami pesan dari daerah Matesih Karanganyar. Snack dan 1x makan besar kami pesankan dari salah satu warga yang buka warung dikampung kami. Senang sekali rasanya karena antusias warga sangat tinggi untuk mengikuti kegiatanini. Pendanaan yang kami ambil dari tabungan kumpulan dan tambahan iuran Rp.35.0000/orang serta Rp.50.000 untuk luar anggota kumpulan ternyata cukup untuk menutup seluruh biaya touring kali ini.
Datanglah hari H yang dinanti, minggu pagi 15Maret 2009 seluruh peserta touring sudah harus siap berkumpul di barat desa pukul 06.00, bus sudah datang sekitar pukul 05.30 dan siap berangkat maz pkl. 06.30. Aku dan beberapa panita kecil lainnya yang sepakat memakai seragam “inglik” sudah siap mengatur para peserta touring. Aku yang satu-satunya panitia cewek tak mau kalah juga dengan rekan-rekanku yang lain, dimana mereka mewarnai rambut memakai “SASA” dengan beberapa warna  yang beda. Setelah seluruh peserta kami cek dan tidak ada satupun yang tertinggal, ketua panitia pun memberi aba-aba pada pengemudi bus untuk mulai berjalan tentunya setelah kami semua berdoa.
Narsis di Dalam Bus
Suasana Di Dalam Bus saat Berangkat
Tujuan pertama adalah Borobudur. Sudah menjadi kesepakatan sebelumnya, kalau misalkan kursi penumpang kurang, panitia harus siap untuk berdiri. Akhirnya aku, Ali, dan Bagus pun memutuskan untuk berdiri sepanjang perjalanan. Hanya dengan bersandar di sandaran kursi penumpang dan mengikuti perjalanan dengan riang gembira membuatku sama sekali tidak merasa kecapekan, bahkan berada dirombongan kursi paling belakang yang isinya remaja-remaja cowok justru semakin tidak terasa capeknya, mereka sesekali bersenda gurau lucu, konyol, dan asyik memainkan alat musik bahkan dengan lagu yang hanya asal-asalansaja. Saking asyiknya, aku sendiri lupa jalur menuju Borobudur yang sempat ditempuh kala itu melewati kota mana. Tanpa terasa tau-tau sudah masuk wilayah Magelang. Beberapa teman yang tadi asyik becanda dan bernyanyi sudah terlihat capek dan tiduran di jok belakang. Aku dan 2 rekanku masih saja asyik berdiri sambil sesekali foto-foto narsis abis sambil berbagi mendengarkan lagu HP lewat satu Headset.
Setelah melakukan perjalan sekitar 3 jam, sampailah kami di Borobudur. Sekitar pukul 10.00 lebih sedikit kami sampai di halaman parker Borobudur. Temanku yang mendapat tugas mengurs tiket sudah mempersiapkan diri. Cukup panas suasana di Borobudur kala itu, bahkan para ojek payung sesekali menawarkan payung mereka dengan Rp. 3000,-/payung.  Ada beberapa yang berminat menyewa, namun aku dan rekan rekanku memilih untuk tidak menyewa saja karena sepertinya akan sangat ribet ketika kami nanti mau heboh-hebohan diatas candi..hehehehe. Setelah kami membeli tiket sejumlah peserta (kami mendapatkan bonus gratis 5 tiket masuk) seharga Rp. 15.000/orang (kalautidaksalah, agaklupa) akhirnya seluruh peserta pun berbaur masuk kehalaman utama candi, Kami memperkirakan berada disana sekitar 1,5-2 jam saja. Karena kami panitia, kami rombongan yang paling akhir masuk kehalaman candi karena harus memastikan seluruh peserta masuk semua terlebih dulu. Aku yang kala itu mengajak Wahyu serta Putri, saudara-saudaraku berjalan rombongan bersama teman yang lain, sebuat saja Bagus, Ali, Nita dan Pur (saudara sepupupku yang juga tinggal satu kampong denganku).
Halaman Candi Borobudur
Akses Menuju ke Candi Borobudur
Ternyata dari loket menuju ke candi kami harus berjalan sepanjang 300 an meter. Ditengah panasnya udara ditempat itu, kami masih tetap saja narsis disepanjang perjalanan dengan berfoto-foto ria. Beberapa meter sebelum naik ke lokasi candi, ada loket petugas yang meminta seluruh pengunjung untuk meninggalkan barang bawaan terutama makanan ringan/minuman termasuk rokok (untuk menjaga agar tidak ada pengunjung yang membuang bungkus diatas candi), namun aku pikir bukannya naik ke atas candi setinggi itu dengan puluhan anak tangga akan membuat kerongkongan menjadi kering?, so aku menyelipkan botol minuman mineral kecil jika sewaktu-waktu kami dehidrasi diatas. Setelah dirasa kami aman, kami pun diizinkan untuk naik. Satu per satu anak tangga kami susuri, haduwww.. barumasuk dibagian pertama, aku udah agak ngos-ngosan, dasar efek ngga pernah olah raga nich. 
Narsis Itu Wajib !!

Nampang Bersama Panitia



















Pelan pelan tapi pasti, kami akhirnya bisa mencapai ke bagian atasnya. Beberapa kali kami pun berpose didepan stupa-stupakecil yang mengelilingi candi Borobudur. Kami menyusuri dan mengitari candi, ada beberapa arca atau relief yang rusak, bahkan ada beberpa yang nampak arca tanpa tangan. Sesampai di bagian paling atas, dekat stupa utama yang besar itu, aku mencoba untuk menyempatkan diri melakukan tradisi yang umumnya dilakukan ketika berkunjung di Borbudur, yaitu memasukkan tangan kedalam salah satu stupa melalui celah-celahnya, jika tangan kita menyentuh arca atau entah apalah yang ada didalam stupa itu, mitosnya cita-cita kita akan kesampaian. Sayangnya tanganku ngga panjang, so aku ngga bisa nyentuh benda didalam stupa itu. Salah satu temanku bahkan bisa meraihnya..hehehe. Udara semakin panas saja kala itu, kulitku seakan mulai menghitam seketika, hehe… kami pun menyempatkan diri berfoto-foto didekat stupa.
Pemandangan Di Puncak Candi Prambanan

Pengunjung Kepanasan Menyewa Payung
Bentuk Candi Borobudur tak seperti Candi-candi Hindu, kami hanya bisa menikmati keindahan stupa dan relief disepanjang dindingnya saja, setiap kami naik tangga bagian demi bagian, kami hanya disambut dengan jejeran stupa, tidak seperti candi Prambanan, dimana setelah kita menaikki tangga, kita disambut oleh patung-patung dewa Hindu yang berada diruangan candi tersebut. Aku beberapa kali mengitari Borobudur, tapi tak ada celah atau pun ruang dimana kami bisa masuk kedalam stupa. Candi Borobudur terdiri dari 10 tingkatan dengan ukuran 123 x 123 meter, tinggi sekitar 42 m, terdiri dari 1460 relief dan 504 Stupa. 6 tingkat pertama berbentuk bujur sangkar, 3 tingkat atasnya berbentuk lingkaran, sedangkan tingkat paling atas berbentuk stupa, dimana terdapat Arca besar yang menghadap kearah barat dalam kondisi bersila. Stupa besar yang paling atas tertutup bagian dindingnya, bahkan banyak yang menduga apa isi didalam stupa tersebut, banyak pendapat dan cerita yang menjelaskan kalau didalamnya terdapat arca yang sangat besar juga, namun dalam kondisi belum sempurna, tangannya masih belum selesai dibentuk, hidungnya juga belum sempurna, dan ada beberpa bagian yang masih kasar pahatannya, maka Stupa itu pun seolah sebagai penutup arca didalamnya.
Saudaraku Ngga Mau Kalah ngEksis

Gajah yang disewakn di area taman Candi Borobudur
Bergaya Dulu Ahh !!
Setelah puas berjalan-jalan diatas Candi, akhirnya kami turun melalui jalur tersendiri. Saat kami bersantai disebuah taman, kami sesekali melihat aksi beberapa gajah yang memeang disewakan bagi yang berminat menaikinya, tentunya tetap didampingi pawangnya. Kami melanjutkan berjalan menuju ke lokasi parker, namun sebelum sampai disana, kami mellihat-lihat sebentar toko cinederamata dihalaman parker Borbudur, aku lupa saat itu membeli apa, tapi sepertinya aku kurang tertarik membeli sesuatu ditempat wisata. Cinderamata yang dijual banyak jenisnya, dari pakaian, acsesories, sampai kerajinan tangan. 

Makan Siang Nasi Kotak Di Dalam Bus
Tujuan kami selanjutnya adalah Pantai Parangtritis, kami biasa menyebutnya Paris. Kami sampai dilokasi kedua sekitar pukul 14.00. Terik matahari masih sangat menyengat sekali, bahkan kaki terasa terbakar saat aku mencoba untuk melepaskan alas kaki. Aku masih ragu-ragu untuk ikut terjun ke dekat air, panasnya minta ampun, Alhasil aku dan teman-teman berfoto ditepi pantai. Ketika matahari mulai turun, aku baru memberanikan diri terjun dan berjibaku dengan air laut yang asin. Pantai Parangtritis memang panti yang cukup terkenal diantara obyek pantai selatan yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebenarnya tempatnya tidak kalah indah dengan pantai-pantai lain, namun Pantai dengan pasir hitam ini cukup sarat dengan kisah mistis. Sebut saja adanya urband legend Nyi Roro Kidul yang menurut cerita menjadi penguasa pantai selatan, dan dengar-dengar para pengunjung dilarang memakai baju warna hijau jika berkunjung kesana karena akan menungundang kemarahan Nyi Roro Kidul. Banyak juga wisatawan yang menjadi korban kegansan ombak disana, bahkan orang-orang menyebutkan itu akibat kemarahan Nyi Roro Kidul. Tapi lepas dari percaya atau tidak percaya, asalkan kita menjaga diri dan ngga “njarak” insyallah akan selamat dech.. Toh maksud dan tujuan kita kesana adalah untuk refreshing, jadi ya jangan berbuat yang kurang menyenangkan.
Temen-Temen Yang Pada Kurang Kerjaan Tuch !!
Sekitar pukul 17.00, aku dan teman-temanku (ternyata romobongan terakhir) meninggalkan pantai basah dan kembali menuju Bus untuk bersiap mandi membersihkan diri. Karena kamar mandi umum penuh, aku dan saudaraku ditawari pemilik penginapan untuk mandi disalah satu kamar. Air tawar yang berada di bak kecil itu masih terasa asin di lidahku. Selain itu, kotoran berupa butiran-butiran lembut pasir pantai tak segera menghilang dari tubuh maupun pakaianku (salahnya aku pakai celana ketat, sehingga setelah beberapa kali cuci kering pake pasir-pasir itu masih tetap nempel disela-sela kainnya). Setelah selesai mandi, aku dan teman-teman melanjutkan lagi perjalanan. Tujuan terakhir yang hendak kami kunjungi alah Malioboro. 
Lampu Hias di Malioboro
Perjalanan dari paris ke Malioboro agak lama, selain jalannya naik turun, suasa gelap juga sedikt membatasi gerak si supir. Terlihat beberapa peserta sudah mulai kecapekan dan tak banyak bercerita seperti ketika berangkat. Beberapa waktu kemudian sampailah kami di Malioboro, bus parkir disekitar alun-alun, dan kami menyusuri malam di tengah keramaian Malioboro. Dari mall satu ke mall lain kami telusuri, cuman sekedar untuk cuci mata saja sebenarnya karena tak ada niat untuk belanja apapun. Aku justru membeli sesuatu acsesoris di penjual kaki lima yang ada diemperan toko sekitar Malioboro. 
Menanti Mie Ayam di Warung Kaki Lima
Ceritanya Lagi Milih Oleh-Oleh
Kami jalan-jalan mencari penjual kaos khas Jogja, aku lupa namanya sich tapi bukan Dagadu seingatku. Setelah capek berjalan, kami kembali kearah parkiran, dengan sesekali mampir ke penjaja makanan ringan seperti dodol, yangko, geplak dll, aku yang penyuka Brem, memilih membeli brem dan sedikit jajanan lain untuk oleh-oleh. Sebelum memutuskan kembali ke bus, kami mampir dulu untuk mencicipi Mie Ayam yang berada di trotoar Malioboro, berharap menemukan cita rasa Mie ayam ala Malioboro, tapi yach.. sama saja sich.. hahahaa.
Well, karena sudah kenyang perut dan kenyang mata, kami memutuskan untuk kembali ke Bus. Beberapa saat kami menunggu hingga peserta semua telah berkumpul. Lalu kami pun melanjutkan perjalann pulang. Tetap seperti ketika berangkat, Aku, Ali dan Bagus tetep berdiri dan menikmati terangnya lampu dijalan sambil meningkmati beberapa snack yang masih tersisa. Kali ini suasana bus sangat sepi, terlihat beberapa orang sudah tertidur dengan nyenyak. Temanku yang usil sesekali mencuri foto para peserta Touring yang terlelap.
Perjalanan pulang rasanya cepat sekali kami lalui, baru beberapa menit sepertinya, dan kami sudah masuk ke daerah Klaten, saat diperbatasan, bus sempat berhenti di pusat oleh-oleh, dan beberapa dari kami pun turun untuk melihat-lihat siapa tahu ada yang layak untuk dibeli, termasuk akupun turun, tapi sudah lupa membeli apa. Perjalanan pulang pun kami lanjutkan, dan buspun berhenti didepan SD Ngaru-aru 1, yang artinya kami sudah sampai di kampong halaman. Saat itu suasana sudah cukup sepi, aku pun lupa waktu sudah menunjukkan pukul berapa, tapi sepertinya antara pukul 11.00-00.00.
Kami turun bus satu persatu setelah cek barang apa saja yang sekiranya tertinggal didalam bus. Setelah dipastikan bersih, bus pun berpamitan dan kami meluncur kerumah masing-masing. Capek, ya tentu capek.. tapi tetap rasa puas dan kesenangan selama diperjalanan plus pengalaman-pengalaman indah, itu tidak akan terlupakan, terlebih menikmati perjalanan Boyolali-Borobudur-Parangtritis-Malioboro-Boyolali dengan berdiri sepanjang perjalanan, tapi seruu..!!
The Black Community (tapi 1 personelnya  ngiilang entah ikut rombongan mana)
 "_"  (Happy Touring) "_"